GENMILENIAL.ID - Radhar Panca Dahana adalah seorang sastrawan berkebangsaan Indonesia yang lahir pada tanggal 26 Maret 1965.
Radhar dikenal melalui karya-karyanya, berupa esai sastra, puisi, dan cerita pendek yang dipublikasikan di sejumlah majalah Indonesia. Sebab itulah ia dijuluki sebagai esais, sastrawan, kritikus sastra dan jurnalis.
Nama Radhar merupakan akronim dari nama orang tuanya, yaitu Radsomo dan Suharti. Ia anak kelima dari tujuh bersaudara yang kesemuanya memiliki nama depan Radhar.
Ayah Radhar, Radsomo, pernah difitnah menjadi penyokong komunis, sehingga menjadikannya bersikap keras kepada semua anaknya.
Ia menerapkan pendidikan kedisiplinan tinggi pada anak-anaknya, bahkan semua anak Radsomo rambutnya dikuncung, dengan hanya menyisakan sejumput rambut di ujung kepala.
Radsomo sangat otoriter, dia tidak segan menghukum anaknya yang membangkang atau keluar dari aturan yang ia buat, biasanya ia menghukum dengan memukul menggunakan rotan.
Diantara anaknya, Radhar Panca yang sering mendapat hukuman dari Radsomo. Ia membangkang karena ketidaksesuaian cita-citanya dengan sang Ayah.
Radsomo menginginkan Radhar Panca Dahana untuk menekuni bidang seni lukis, dan menjadi seorang pelukis. Namun, Radhar memiliki cita-cita menjadi seorang penulis.
Ia sangat menyukai pertunjukan teater dan suka membuat karangan, hal ini sudah ada pada dirinya sejak dia berusia 5 tahun.
Dikarenakan sering mendapat hukuman secara fisik, Radhar Panca Dahana memutuskan untuk pergi dari rumahnya di Lebak Bulus, Jakarta, pada akhir tahun 1970.
Radhar bahkan sampai berteriak, "Tidak ada demokrasi di sini!"
Nah, tempat yang selalu menjadi favoritnya jika meninggalkan rumah adalah kawasan Bulungan untuk menonton teater, dan tempat itu juga yang menjadikan ia pribadi seperti itu.
Radhar Panca Dahana memang sudah ditakdirkan menjadi seorang penulis, pasalnya ia sangat berbakat dalam hal tersebut.