Radhar Panca Dahana, jurnalis, esais dan sastrawan legenda Indonesia

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Sabtu, 8 April 2023 | 12:42 WIB
Radhar Panca Dahana, Sastrawan legenda  (Twitter )
Radhar Panca Dahana, Sastrawan legenda (Twitter )

Saat baru duduk di kelas 5 sekolah dasar, Radhar Panca Dahana membuat karangan berupa cerita pendek berjudul Tamu Tak Diundang, lalu ia kirimkan ke majalah Kompas, dan berakhir tulisannya tersebut dipublikasikan. 

Baca Juga: Jelang Muswil, Pengurus Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiah Subang dikukuhkan oleh PWNA Jabar

Tidak berhenti di sana, saat SMP juga ia mulai mengembangkan karirnya. Ketika di kelas 2, ia menjadi redaktur tamu majalah Kawanku, dan di kelas 3 ia mulai membuat cerita pendek, puisi, dan ilustrasi. 

Pada awal ia mulai dikenal, Radhar Panca Dahana memakai nama samaran, yaitu Reza Morta Vileni. Nama itu ia dapatkan dari kawannya, Rezania, yang merupakan seorang yang pawai berdeklamasi. 

Hal itu ia lakukan karena di dalam dirinya masih ada ketakutan kepada sang Ayah. 

Pendidikan Radhar Panca Dahana juga sangat menarik, ia menjalani masa sekolah menengah atasnya selama 6 tahun. Itu adalah bentuk kekecewaan ia kepada Ayahnya. 

Di masa SMAnya, saat ia bersekolah di Bogor, Radhar Panca Dahana bergabung ke Bengkel Teater Rendra milik W.S. Rendra. Diketahui bergabungnya Radhar di sana pun tidak lama, karena ia berselisih dengan Rendra mengenai menejemen grup.

Radhar Panca melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi atas saran dari Anto Baret. Awalnya ia ingin berkuliah di Universitas Pajajaran, Studi Ekonomi Pembangunan, namun sayangnya ia gagal. 

Akhirnya Radhar berkuliah di UI, bidang Sosiologi. Ia berkuliah di sana selama 2,5 tahun. Ini karena ia kembali tergoda oleh teater dan hal kepenulisan lainnya, sehingga ia menjadi acuh tak acuh pada kampus. 

Baca Juga: Bukan karir yang mudah dicapai, berikut hal-hal yang mesti dipenuhi untuk menjadi seorang pilot

Pada tahun 1997, ia terbang ke Prancis untuk melanjutkan studinya dengan meriset postmodernism di Indonesia. Ia juga tidak menyelesaikan studinya tersebut. 

Alasannya, di kutip dari kemendikbud, seperti ini: "Aku tak kuat menahan diri. Sementara aku hidup enak di sini, orang-orang di negriku hidup dalam teror."

Ia mengatakan hal tersebut karena pada saat itu, Indonesia sedang dalam masa krisis karena tergulingnya Suharto dari kursi kepresidenan. 

Pulang dari Prancis, Radhar mendapat berita buruk soal kesehatannya. Ia divonis gagal ginjal dan mengharuskannya untuk rutin mencuci darah. 

Walaupun ditemani oleh penyakit mematikan, sastrawan legenda ini tetap gigih dalam berkarya untuk Indonesia. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Sumber: Berbagai sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X