Menjadi Indonesia adalah menjadi manusia yang terbuka, mengakui kesetaraan semua bangsa, namun tetap berdiri kokoh atas identitas sendiri.
Oleh karena itu, manusia Indonesia, menurut Pram, harus berpendidikan, harus membaca dunia, dan harus berani memperjuangkan nilai-nilai keadilan.
Pram tidak menawarkan konsep manusia Indonesia yang utopis. Ia menunjukkan bahwa menjadi manusia Indonesia adalah sebuah proses yang penuh luka, penuh perjuangan, namun juga penuh harapan.
Ia menulis untuk mengingatkan bahwa bangsa ini punya hak untuk bermartabat, untuk berbicara dengan suara sendiri, dan untuk menentukan jalannya sendiri.
Hingga hari ini, gagasan Pramoedya tentang manusia Indonesia tetap relevan.
Ia bukan hanya berbicara tentang zaman kolonial, tetapi tentang manusia Indonesia sepanjang masa: yang sadar, yang berani, dan yang setia pada nuraninya.***
Artikel Terkait
Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Indonesia yang dihilangkan dalam sejarah, berikut perjalanan hidupnya
Penyair Wiji Thukul dan tujuh puisi perlawanan terhadap ketidakadilan
ESAI : Pramoedya Ananta Toer mimpi Brahmana melawan tirani
Penyair Wiji Thukul, aktivis perlawanan yang dihilangkan karena puisi
Puisi-puisi pilihan Soe Hok Gie: Suara sunyi yang tak pernah padam
Soe Hok Gie: 7 Kutipan yang harus diingat pemuda hari ini
Soe Hok Gie dan relevansi gerakan mahasiswa hari ini