GENMILENIAL.ID – Di balik citra sebagai negara 'bermasalah' dalam geopolitik, Iran sesungguhnya adalah mercusuar sains yang menyala di tengah dunia Islam.
Hal ini diungkapkan oleh Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Universitas Khairun yang juga merupakan peneliti di Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (UI).
Dalam wawancara eksklusif dengan GenMilenial.id, Yanuardi menyoroti sejarah panjang peradaban Persia yang telah lama menjadi pelopor ilmu pengetahuan, dari era klasik hingga era revolusi modern pasca 1979.
Baca Juga: Menapak jejak dakwah Islam di Jembrana: Wisata religi ke makam buyut lebai dan Ustaz Ali Bafaqih
Baginya, Iran bukan hanya negara politik, tapi juga bangsa yang menjadikan ilmu sebagai jalan spiritual dan perlawanan terhadap keterbelakangan.
“Teknologi rudal dan drone Iran dalam konflik Israel baru-baru ini bukanlah sekadar kekuatan militer, tapi bukti bahwa mereka serius dalam membangun sains,” ujar Yanuardi.
Dari Jundishapur ke Tehran
Menurutnya, tradisi keilmuan Iran sudah berkembang bahkan sebelum kedatangan Islam, misalnya melalui pusat pendidikan kuno Jundishapur.
Namun, masa kejayaan peradaban Islam memperkuat posisi Iran sebagai pusat dialektika ilmu, filsafat, dan wahyu.
Baca Juga: Heboh di medsos, siswa Tuban temukan belatung di lauk MBG sekolah
Tokoh-tokoh seperti Ibn Sina (Avicenna), al-Biruni, dan al-Tusi menjadi pilar kejayaan intelektual Persia.
Transformasi ini tidak berhenti. Di masa kontemporer, Iran menjadi negara dengan pertumbuhan publikasi ilmiah tercepat di dunia, naik dari peringkat 52 pada 1996 ke posisi 16 global saat ini.
“Mereka berhasil menunjukkan bahwa sains bisa tumbuh bahkan di tengah embargo dan tekanan ekonomi,” kata Yanuardi.
Sains dan spiritualitas