Dentuman misterius di langit Cirebon: BRIN ungkap jejak meteor 5 meter yang melintas, bukan jatuh ke bumi

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Rabu, 8 Oktober 2025 | 15:57 WIB
Menyoroti analisis dugaan fenomena meteor jatuh di wilayah Cirebon, pada Minggu, 5 Oktober 2025 (Instagram.com/@t_djamal)
Menyoroti analisis dugaan fenomena meteor jatuh di wilayah Cirebon, pada Minggu, 5 Oktober 2025 (Instagram.com/@t_djamal)

GENMILENIAL.ID – Suara dentuman keras disertai cahaya merah di langit Cirebon pada Minggu, 5 Oktober 2025, sempat membuat warga panik dan memicu berbagai spekulasi liar di media sosial.

Dari dugaan ledakan pabrik hingga teori konspirasi benda luar angkasa, peristiwa itu menjadi bahan perbincangan hangat di dunia maya.

Namun, penjelasan ilmiah akhirnya datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Peneliti senior BRIN, Thomas Djamaluddin, mengungkapkan bahwa fenomena tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh meteor besar berdiameter 3–5 meter yang melintas cepat di atmosfer bagian selatan Jawa.

Baca Juga: Pihak Ponpes Al Khoziny minta maaf, polisi tetap lanjutkan proses hukum hingga dapat dukungan dari MPR

“Berdasarkan pantauan sensor BMKG di Astanajapura, Cirebon, terdeteksi getaran pada pukul 18.39 WIB dengan arah barat daya. Itu menunjukkan adanya gelombang kejut akibat meteor besar yang melintas,” ujar Thomas dalam keterangannya, Selasa, 7 Oktober 2025.

Melintas cepat, tapi tak sentuh bumi

Thomas menjelaskan, analisis dilakukan berdasarkan berbagai sumber, termasuk rekaman CCTV dan laporan masyarakat dari sejumlah daerah seperti Tasikmalaya dan Kuningan.

Dari hasil pengamatan, meteor tersebut melintas dari arah barat daya di selatan Jawa menuju kawasan Cirebon sekitar pukul 18.35–18.39 WIB.

Baca Juga: Fakta baru di balik ambruknya Ponpes Al Khoziny: Hanya 50 dari 42 ribu pesantren di Indonesia yang punya izin bangunan

“Fenomena itu cukup kuat untuk menimbulkan dentuman keras, tapi kemungkinan besar meteor terbakar habis di atmosfer. Hanya fragmen kecil, jika ada, yang mungkin jatuh di wilayah terpencil,” jelasnya.

Pernah terjadi di Bone, Sulawesi Selatan

Thomas juga membandingkan peristiwa ini dengan meteor Bone tahun 2009, yang menimbulkan dentuman besar hingga kaca jendela rumah warga bergetar.

“Kalau di Bone, ukuran meteornya jauh lebih besar, sekitar 10 kilometer. Sementara di Cirebon ini ukurannya hanya 3–5 meter, jadi efeknya lebih kecil, tapi tetap cukup kuat secara akustik dan visual,” katanya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X