Ilmuwan ungkap iklim bulan Januari mencapai rekor, singgung soal adanya tanda kerusakan bumi

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Rabu, 12 Februari 2025 | 06:37 WIB
Suhu panas pada Januari disebut jadi tanda kiamat (Freepik/Freepik)
Suhu panas pada Januari disebut jadi tanda kiamat (Freepik/Freepik)

Para ilmuwan sepakat bahwa pembakaran bahan bakar fosil menjadi pendorong utama pemanasan global jangka panjang. 

Namun, variasi iklim alami juga memengaruhi fluktuasi suhu dari tahun ke tahun. 

Baca Juga: Penampilan terbaru Lolly dibongkar sang ibu, Nikita Mirzani: Tidak ada ibu yang membiarkan anaknya buruk rupa

Mereka masih terus mencari faktor tambahan yang menyebabkan pemanasan berkelanjutan ini.

Beberapa ilmuwan menduga bahwa faktor pemanasan global yang berkelanjutan disebabkan oleh kombinasi antara emisi bahan bakar fosil dan variabilitas iklim alami. 

Selain itu, perubahan dalam penggunaan bahan bakar pengiriman yang lebih bersih dengan mengurangi emisi sulfur berpotensi mengurangi pembentukan awan reflektif yang biasanya memantulkan sinar matahari.

Sebuah makalah ilmiah yang diterbitkan pada Desember juga menyelidiki kemungkinan bahwa berkurangnya awan rendah berperan dalam peningkatan suhu yang mencapai permukaan Bumi. 

Baca Juga: Tidak mendeportasi Pangeran Harry dari AS, Trump pilih puji-puji sikap Pangeran William

Namun, penelitian ini masih dalam tahap tinjauan sejawat.

"Hal ini masih menjadi bahan perdebatan," tambah Nicolas.

Peningkatan suhu di Indonesia

Fenomena kenaikan suhu global juga terjadi di Indonesia pada Januari 2025.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa anomali suhu udara rata-rata pada Januari 2025 menunjukkan nilai positif sebesar 0,20°C. 

Ini menjadi rekor anomali tertinggi ke-11 sejak pencatatan dimulai pada 1981.

Baca Juga: Kang Gobang diduga meninggal karena penyakit angin duduk, ini cara mengatasinya

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Sumber: The Guardian

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X