Arianto mengatakan tradisi Batalam juga mengalami perkembangan seiring dengan penggunaannya dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk acara keagamaan seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Menurutnya, ketika tradisi tersebut diterapkan dalam kegiatan Maulid Nabi, pihak yang dihormati tidak lagi semata-mata ditentukan berdasarkan status bangsawan.
“Ketika tradisi itu berkembang ke dalam kegiatan Maulid Nabi, orientasinya juga berubah, mereka yang dihormati bukan lagi semata-mata status bangsawan,” beber Arianto.
Ia menyebut penghormatan dalam tradisi tersebut juga diberikan kepada berbagai unsur masyarakat yang hadir dalam kegiatan.
“Tetapi sebagai para ulama, guru agama, tokoh masyarakat, tamu, dan seluruh warga dalam suasana kebersamaan,” tandasnya.
Dengan penjelasan tersebut, viralnya video wanita yang dikipas-kipas saat makan di acara Maulid Nabi di Banua Lawas kini memiliki konteks lain yang disampaikan oleh pemerintah kecamatan setempat.
Baca Juga: Viral komentar Wali Kota Kendari soal warganya yang dilanda krisis BBM: Saya juga pusing!
Di satu sisi, video tersebut memunculkan beragam komentar di media sosial karena memperlihatkan aktivitas mengipasi sejumlah wanita yang diduga istri pejabat.
Di sisi lain, Camat Banua Lawas menyebut aktivitas tersebut merupakan bagian dari tradisi Batalam Bakipas Pangeran yang telah diwariskan masyarakat secara turun-temurun.
Tradisi itu, menurut Arianto, kini telah berbaur dengan kehidupan masyarakat serta nilai-nilai Islam dan tidak hanya berkaitan dengan penghormatan terhadap kalangan bangsawan.***