Baca Juga: Pabrik tahu di Blok Sukaasih Subang terbakar, api berasal dari dapur penggodokan kedelai
“Jam 8 pagi dan jarak dengan titik karhutla 10-15 km aja kayak gini, apalagi yang di sekitar?” tulis akun tersebut.
Warga keluhkan bau asap dan mata perih
Selain jarak pandang yang menurun, sejumlah warga juga mulai mengeluhkan kondisi udara akibat kabut asap.
Akun Threads @ohlisspam membagikan keluhannya mengenai kondisi di kawasan Trikora, Banjarbaru. Ia menyebut kabut asap pada pagi hari semakin tebal dan pandangan menjadi sangat terbatas.
“Kabut asap di Trikora, Banjarbaru pagi ini makin tebal dan pandangan minim banget. Bahkan, pakai masker pun baunya tetap kecium dan jujur mata perih banget,” tulis akun tersebut.
Baca Juga: Fakta di balik video viral pejabat BNPB wawancara dari kafe terkait gempa NTT
Keluhan lainnya datang dari akun @hilmiahmiaa. Ia menyebut kondisi kabut asap membuat dirinya khawatir terhadap kondisi anaknya yang mengalami batuk selama beberapa minggu.
“Anakku setahun gak sembuh-sembuh batuknya sudah beberapa minggu. Mau ngungsi juga kemana, semua daerah hampir sama kondisinya,” tulisnya.
Keluhan tersebut menunjukkan kekhawatiran warga terhadap kondisi kabut asap yang dirasakan di sejumlah wilayah Banjarbaru.
180 Hotspot terdeteksi di Kalimantan Selatan
Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Kehutanan (Kemenhut), pada 24 Agustus 2026 terpantau 180 hotspot dengan tingkat kepercayaan High-Medium di Kalimantan Selatan.
Baca Juga: Jejak bencana karhutla di kawasan Gunung Geulis Sukabumi: 4 Hektare lahan sampai gosong dilalap api
Dari jumlah tersebut, sebanyak 15 hotspot atau 8,33 persen berada di dalam area Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).
Sementara itu, 165 hotspot lainnya atau 91,67 persen berada di luar areal PBPH.