“Cuma, di web BeSMART-nya ini tiba-tiba desilnya jadi 6-10, terus saya bingung harus gimana,” imbuhnya.
Setelah mengurus ke Dinas Sosial
Drea kemudian berupaya mengurus persoalan perbedaan data tersebut melalui Dinas Sosial.
Setelah proses tersebut dilakukan, ia mengaku akhirnya dapat melanjutkan pendaftaran beasiswa meski data desil pada laman BeSMART masih menunjukkan angka 6-10.
“Waktu memasukkan NIK orang tua, masih tetap desil 6-10, tapi Alhamdulillah bisa ke tahap berikutnya,” ungkap mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tersebut.
Persoalan data tersebut juga disampaikan salah satu perangkat desa yang ikut mendatangi Drea. Menurutnya, data Drea sebelumnya memang tercatat dalam kelompok desil 6 sebelum dilakukan pengajuan sanggahan.
“Kemarin sudah di-Perlinsos (Perlindungan Sosial -red), awalnya itu dari desil 6 kalau enggak salah, terus saya ajukan sanggahan, akhirnya masuk desil 2,” ungkap salah satu rombongan perangkat desa.
Selain perbedaan desil, perangkat desa tersebut menyebut terdapat data lain yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi Drea.
“Sebelumnya Diandrea itu terdaftarnya karyawati, padahal masih sekolah,” tambahnya.
Jual gantungan kunci untuk tambahan biaya kuliah
Di tengah kesulitan mendapatkan beasiswa, Drea juga mengungkapkan upayanya mencari tambahan uang untuk memenuhi kebutuhan kuliah.
Ia mengaku menjual gantungan kunci hasil kerajinan tangan. Uang dari hasil jualan tersebut kemudian digunakan bersama pinjaman untuk membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT).