Dalam komunikasi tersebut, dokter Icha mengaku berada dalam tekanan saat menangani pasien yang disebut sebagai keluarga anggota DPRD TTU.
Baca Juga: Bupati Subang dorong Polri makin profesional dan terpercaya di usia ke-80 Bhayangkara
“Dokter Maha bisa bantu saya? Saya sedang dibentak-bentak dan dimarahi oleh keluarga yang membawa DPRD,” ungkap dokter Tri menirukan ucapan dokter Icha dalam wawancara di kanal YouTube Kang Hadi Conscience.
Selain dibentak, dokter Icha juga disebut mengalami intimidasi, termasuk diminta menyebutkan nama lengkap untuk keperluan pelaporan.
“Kami tahu dari WhatsApp bahwa dokter Icha dalam keadaan ketakutan,” jelasnya.
Pasien tidak memerlukan antibisa
Menurut penjelasan dokter Tri, pasien yang ditangani berada dalam fase lokal, sehingga penanganannya cukup dengan observasi dan pemberian obat pereda nyeri.
Baca Juga: Hari Bhayangkara ke-80, Polres Subang tegaskan komitmen layani masyarakat di tengah tantangan zaman
“Fase lokal ini hanya perlu pertolongan awal, seperti obat anti nyeri. Itu sudah dilakukan oleh dokter Icha,” katanya.
Ia menegaskan bahwa keputusan tidak memberikan antivenom bukan karena keterbatasan stok, melainkan memang tidak dibutuhkan secara medis.
Kronologi dugaan intimidasi
Peristiwa ini bermula pada 13 Juni 2026 ketika dokter Icha yang sedang berjaga di IGD menerima pasien rujukan akibat gigitan ular.
Pasien tersebut diketahui memiliki hubungan keluarga dengan anggota DPRD TTU.
Dalam penanganannya, dokter Icha telah melakukan pemeriksaan dan konsultasi dengan dokter spesialis.