news

Sorotan khusus: Dugaan riset bodong WNI di ISPPD 2026 tuai kritik, kredibilitas ilmuwan RI dipertaruhkan

Selasa, 26 Mei 2026 | 17:23 WIB
Menyoroti dugaan skandal riset palsu yang dipresentasikan WNI dalam konferensi ilmiah tingkat internasional ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark (Threads.com/@mandharabrasika)

GENMILENIAL.ID – Jagat media sosial tengah diramaikan dengan dugaan skandal pemalsuan riset yang melibatkan sejumlah warga negara Indonesia (WNI) dalam konferensi internasional International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark.

Isu ini pertama kali mencuat lewat unggahan dosen dan peneliti Departemen Ilmu Kelautan Universitas Udayana, Ida Bagus Mandhara Brasika, melalui akun Threads miliknya pada Senin, 25 Mei 2026.

Dalam unggahannya, Mandhara menyoroti dampak serius dari dugaan tersebut terhadap reputasi ilmuwan Indonesia di kancah global.

Baca Juga: ICCN luncurkan Indonesia Culture Festival, dorong ekonomi kreatif dan pariwisata berkelanjutan

Kredibilitas ilmuwan RI disorot

Menurut Mandhara, kasus ini tidak hanya berdampak pada individu yang terlibat, tetapi juga berpotensi merusak kepercayaan terhadap peneliti asal Indonesia secara keseluruhan.

Ia menilai, kredibilitas ilmuwan Indonesia bisa ikut dipertanyakan akibat tindakan segelintir pihak. Terlebih, jumlah ilmuwan Indonesia yang berkiprah di level internasional masih tergolong terbatas.

Konferensi ISPPD sendiri merupakan forum ilmiah bergengsi di bidang medis yang membahas pencegahan serta pengobatan pneumonia dan infeksi pneumokokus.

Baca Juga: Samsara Bamboo Festival 2026 angkat bambu sebagai solusi lingkungan dan ekonomi hijau di Bali

Dugaan riset palsu berbasis AI

Dalam penjelasannya, Mandhara mengungkap bahwa dugaan pemalsuan riset ini melibatkan tiga nama, yakni Prihatini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti.

Ketiganya diduga mengikuti konferensi dengan membawa hasil penelitian yang tidak pernah benar-benar dilakukan.

Lebih jauh, riset tersebut disinyalir dibuat menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), termasuk data, gambar, hingga naskah presentasi.

Selain itu, para terduga juga disebut menggunakan identitas yang berbeda-beda selama presentasi, termasuk mengganti nama dan atribut identitas seperti kalung peserta.

Halaman:

Tags

Terkini