Kedalaman air yang terus berkurang membuat kapal berukuran besar kesulitan melintas, terutama saat air surut.
“Sekarang makin dangkal, kapal besar susah lewat. Kadang harus nunggu air pasang dulu baru bisa jalan,” kata nelayan lainnya, Masna.
Situasi ini dinilai semakin memperburuk kondisi nelayan yang bergantung pada kelancaran akses sungai untuk mencari nafkah.
Baca Juga: 29 Santri gagal terbang meski punya boarding pass, Super Air Jet ungkap kronologi
Normalisasi dinilai belum maksimal
Para nelayan menilai upaya normalisasi sungai yang dilakukan selama ini belum optimal.
Pengerukan yang hanya dilakukan sekitar satu kali dalam setahun dianggap tidak mampu mengimbangi laju pendangkalan dan penumpukan sampah.
Mereka pun berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret, baik melalui pembersihan sampah secara rutin maupun pengerukan lumpur yang lebih intensif.
Upaya tersebut dinilai penting agar akses nelayan kembali lancar dan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir Subang tetap berjalan.***