“Tapi yang ingin saya sampaikan ke teman-teman Maiyah, posisi saya tidak mengubah apa pun. Maiyahan saya tetap Maiyahan,” ujar Noe.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai yang ia pegang selama ini tetap menjadi landasan utama, meski kini berada dalam struktur formal negara.
Bantah tudingan keberpihakan politik
Menanggapi tudingan bahwa dirinya berpihak pada kelompok politik tertentu, Noe dengan tegas membantah anggapan tersebut.
Ia menekankan tidak berada di bawah kepentingan tokoh atau kekuatan politik mana pun.
“Tenang saja. Saya enggak di bawah siapa-siapa. Saya hanya bertanggung jawab pada nilai yang saya yakini dan kepada Tuhan,” tegasnya.
Noe juga membedakan secara jelas antara negara dan pemerintah. Menurutnya, pemerintah bersifat periodik, sementara negara memiliki kepentingan jangka panjang.
“Yang saya masuki adalah sistem negara, bukan kepentingan politik jangka pendek,” jelasnya.
Soroti ancaman ‘perang kognitif’
Lebih jauh, Noe menyoroti ancaman non-militer yang kini dihadapi bangsa, salah satunya adalah perang kognitif.
Baca Juga: Sekjen Kemensos ungkap masalah kesehatan anak sekolah rakyat, dari gigi rusak hingga anemia
Ia menjelaskan bahwa ancaman terhadap negara tidak lagi hanya bersifat fisik, melainkan juga menyangkut cara berpikir masyarakat, disinformasi, hingga runtuhnya kepercayaan sosial.
“Perang kognitif itu menyentuh cara berpikir kita sehari-hari. Itu bisa menghancurkan bangsa tanpa kita sadari,” ujarnya.