“Nah, sekarang Nataru sudah selesai, mumpung sebelum Ramadan. Kalau Ramadan capek nanti kerja, ini kaitannya fisik. Jadi harus digenjot di periode waktu ini,” tegasnya.
Tak hanya Polri, Tito juga meminta tambahan dukungan dari TNI dalam jumlah lebih besar.
“Saya juga minta kepada Pak Maruli, kira-kira bisa nggak 10.000 personel? Karena kalau cuma 1.000 aja tenggelam,” kata Tito.
Sedimentasi sungai jadi ancaman banjir baru
Selain permukiman warga, Mendagri menyoroti kondisi sungai-sungai yang kini dipenuhi sedimen pascabanjir.
Menurutnya, pembersihan sungai harus dilakukan secara paralel setelah lumpur di pemukiman ditangani.
“Setelah itu paralel sungai. Sungai-sungai kecil nanti masuk ke Sungai Tamiang yang besar. Muara sungainya sudah seperti itu, tumpukan sedimen luar biasa banyak dan memblok aliran air ke laut,” paparnya.
Ia mengingatkan, kondisi tersebut sangat berbahaya karena dapat memicu banjir baru meski hujan turun dengan intensitas ringan.
“Akibatnya apa? Hujan dikit saja airnya tumpah ke kanan-kiri, menimbulkan banjir baru,” tandas Tito.
Masih ada waktu sebelum puasa
Berdasarkan jadwal yang dirilis Muhammadiyah, awal Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada 18 Februari 2026.
Artinya, masih terdapat waktu terbatas bagi pemerintah pusat dan daerah untuk mengoptimalkan pembersihan lumpur dan sedimentasi sebelum aktivitas masyarakat meningkat saat bulan puasa.***