Akhirnya, ia dan keluarga terpaksa menumpang sementara di rumah kerabat yang berada di kawasan Dayah Paneuk. Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama.
Banjir susulan datang, kayu besar hantam rumah
Pada malam kedua menginap, banjir susulan kembali datang meski ketinggian air tidak separah sebelumnya.
Baca Juga: Insiden istri Fiersa Besari ditabrak di Stasiun Gambir, pelaku tawarkan damai Rp200 ribu
Arus banjir membawa kayu gelondongan berukuran besar yang menghantam bagian rumah.
“Datang kayu panjang kira-kira 10 meter, ada akar dan dahannya. Hantam teras sampai miring,” kenangnya.
Bertahan di posko, 18 orang berbagi makanan seadanya
Pasca banjir susulan, korban bersama keluarga akhirnya dievakuasi ke posko pengungsian. Hingga kini, ia tinggal bersama 18 orang lainnya dengan kondisi serba terbatas.
“Di sini ada 18 orang, apa yang ada itu yang dimakan. Saya nggak sempat lapar, makan orang sakit sama anak-anak dulu. Kami nggak apa-apa,” ujarnya.
Baca Juga: Tanpa seragam pascabanjir, anak-anak Aceh Tamiang tetap semangat jalani hari pertama sekolah
Bantuan dicuri dan dihanyutkan banjir
Kondisi semakin memprihatinkan ketika bantuan yang sebelumnya diterima dan disimpan di rumah justru hilang. Ia menduga bantuan tersebut diambil oleh orang tak bertanggung jawab.
“Habis salat Ashar saya pulang lihat rumah ibu. Barang-barang hilang, diambil orang. Apa yang dikasih orang saya taruh di rumah, nggak dikunci, besoknya sudah nggak ada lagi,” jelasnya.
Tak berhenti di situ, sisa bantuan lainnya kembali hanyut saat banjir susulan datang.
“Yang pertama bantuan dicuri, yang kedua dihantam air banjir. Semuanya basah dan hanyut,” tambahnya.