“Orang merasa apakah ini bagian dari mark up? Atau bagian dari cawe-cawe bangun relasi dengan China?” ujarnya.
Dalam podcast yang sama, mantan anggota BIN, Sri Radjasa Chandra, menyebut Whoosh kini menjadi pintu masuk bagi China untuk memperluas pengaruhnya.
Bicara studi kelayakan yang diambil dari Jepang
Rocky mengingatkan bahwa Jepang merupakan pihak yang paling dirugikan karena studi awal proyek kereta cepat dilakukan oleh mereka, namun pelaksanaannya justru diberikan kepada China.
Pernyataan itu sejalan dengan pandangan akademisi NTU, Sulfikar Amir, yang sebelumnya menyebut bahwa China hanya membuat 'studi kelayakan atas studi kelayakan Jepang,' tanpa melakukan riset empirik langsung di lapangan.
Metode inilah yang menurutnya berkontribusi pada pembengkakan biaya atau cost overrun.***