“Satu korban mengalami gangguan yang cukup berat sehingga harus segera dilakukan operasi emergensi kemarin,” jelasnya.
Sementara itu, satu korban lainnya hanya menjalani perawatan jalan setelah pemeriksaan dokter spesialis dan diperbolehkan pulang.
Meski demikian, pihak RS Yarsi memastikan seluruh pasien dalam kondisi stabil dan mendapat perawatan intensif.
Baca Juga: Soal ledakan di SMAN 72 Jakarta saat salat Jumat, Pramono Anung: Pemprov DKI sangat berduka
“Kondisi korban saat ini stabil,” tegas Irmadianti.
Kronologi: Ledakan terjadi usai khutbah jumat
Ledakan terjadi sesaat setelah khutbah Jumat selesai dan sebelum iqamah dikumandangkan. Salah satu saksi mata, Sela, siswa kelas XI SMAN 72 Jakarta, mengaku berada di selasar masjid saat mendengar suara dentuman keras.
“Saya menduga siswa ini ingin balas dendam dan bunuh diri. Tadi saya lihat ada tiga jenis bom dan hanya dua yang meledak,” ungkap Sela.
Sela menuturkan, sebelum Salat Jumat, sekolah menggelar kegiatan Adiwiyata, dan suasana saat itu masih berjalan normal tanpa kecurigaan apa pun.
Baca Juga: Soal ledakan di SMAN 72 Jakarta, Wamenko Polkam Lodewijk: Jangan langsung kaitkan dengan terorisme
“Kami tadi ikut kegiatan Adiwiyata di pagi hari,” tambahnya.
Polri dalami dugaan motif perundungan
Menanggapi peristiwa ini, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memastikan pihaknya tengah mendalami dugaan motif pelaku yang disebut merupakan korban perundungan atau bullying.
“Untuk saat ini salah satu yang dilakukan operasi adalah terduga pelaku. Motif sedang kita dalami berbagai macam informasi,” ujar Sigit di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat 7 November 2025.
Baca Juga: Gus Dur diusulkan jadi pahlawan nasional, Cak Imin: Demokrasi Indonesia tumbuh dari nilai pesantren