Ferri menegaskan bahwa video tersebut bukanlah peristiwa kriminal, melainkan hanya konten hiburan untuk kebutuhan siaran langsung di TikTok.
Baca Juga: Promedia audiensi dengan Bakom RI, bahas penguatan komunikasi publik lewat media lokal
"Kita ini challenge live di TikTok, hanya untuk menghibur kok malah kami diduga maling sama orang-orang," kata Ferri.
Ia juga menyayangkan banyaknya akun yang mengunggah ulang video tersebut dengan narasi yang tidak sesuai fakta.
"Banyak akun Instagram-TikTok yang mengunggah video kami dengan caption diduga maling," beber Ferri.
"Jadi tolong hentikan postingan seperti itu karena banyak warganet yang salah paham," sambungnya.
Penampilan mirip Teletubbies jadi sorotan
Selain narasi dugaan pencurian, perhatian publik juga tertuju pada penampilan kedua pria yang dianggap mirip karakter Teletubbies.
Lakban cokelat yang melilit tubuh mereka dari kepala hingga badan membuat visual video terlihat unik sekaligus mengundang rasa penasaran warganet.
Hal inilah yang kemudian membuat video tersebut cepat viral, meski informasi yang menyertainya belum terverifikasi.
Pentingnya bijak bermedia sosial
Kasus ini kembali menjadi pengingat bagi masyarakat untuk tidak mudah percaya pada informasi yang beredar di media sosial tanpa verifikasi.
Penyebaran informasi yang tidak akurat berpotensi menimbulkan kesalahpahaman bahkan merugikan pihak tertentu.
Artikel Terkait
Kriminolog forensik: Wajah tertutup lakban, kematian Arya Daru diduga tak wajar
Polisi ungkap lakban kuning dibeli Arya Daru dan istri di Jogja, jadi barang bukti pembanding
Viral truk angkutan hebel terguling di Jembatan BKT Cakung Jaktim, timpa mobil Brio dari arah berlawanan
Salah satunya tolak wacana bangun SPPG, viral Wakil Rektor UNY marah-marah saat mahasiswa akan gelar aksi
Viral oknum nakes konten bayi NICU, tuai kecaman hingga berujung resign
Viral kontingen Pesparawi Kepri nyanyi di Bandara Soetta, gagal terbang ke Manokwari diduga tiket belum dibayar
Viral momen hakim langsung ngacir usai jatuhkan vonis ke Nadiem Makarim, pengacara: Kenapa buru-buru, takut?