Mengalah demi sesama, warga Aceh Tamiang relakan antrean Huntara untuk penyintas yang lebih terisolir

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Rabu, 7 Januari 2026 | 21:00 WIB
Relawan Fahri Ibrochim membagikan kisah inspiratif salah satu warga Aceh Tamiang (Instagram/fahriibrochim)
Relawan Fahri Ibrochim membagikan kisah inspiratif salah satu warga Aceh Tamiang (Instagram/fahriibrochim)

GENMILENIAL.ID — Di tengah upaya pemulihan pascabanjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatera pada akhir November 2025, kisah solidaritas muncul dari Aceh Tamiang.

Saat bantuan hunian sementara (huntara) mulai dibangun pemerintah, seorang warga justru memilih mengalah demi penyintas lain yang kondisinya dinilai lebih parah.

Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah di Provinsi Aceh yang terdampak cukup serius akibat bencana tersebut.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tercatat sekitar 178.479 unit rumah warga mengalami kerusakan akibat banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Baca Juga: Di tengah status transisi darurat, anak-anak dusun pedalaman Aceh Utara tertawa saat terima bantuan kasur

Bantuan terus mengalir, mulai dari logistik, sandang, hingga pembangunan huntara bagi warga terdampak.

Namun, di tengah keterbatasan jumlah hunian sementara, muncul kisah inspiratif yang dibagikan oleh konten kreator sekaligus relawan kemanusiaan, Fahri Ibrochim.

Merelakan antrean Huntara demi korban lain

Melalui unggahan video di akun Instagram @fahriibrochim, Fahri menceritakan pertemuannya dengan seorang warga Kampung Suka Jadi, Aceh Tamiang, yang terdaftar sebagai calon penerima huntara.

“Ada satu ibu-ibu yang saya tanya, ‘Bu, apakah sudah terdaftar dalam orang yang akan mendapatkan rumah sementara atau huntara yang kemarin diresmikan oleh Bapak Presiden?’ kemudian ibu itu menjawab, ‘Sudah, kami sudah dapat,’” ujar Fahri, dikutip dari unggahan yang dibagikan pada Rabu, 7 Januari 2026.

Baca Juga: Tali jembatan darurat putus di Aceh Tengah, relawan terjatuh saat salurkan bantuan ke desa terisolir

Fahri mengungkapkan, warga tersebut berada di nomor antrean sekitar 700 saat suaminya mendaftarkan diri sebagai penerima huntara. Namun, alih-alih menunggu giliran, keluarga itu justru memilih mengalah.

Menilai penyintas lain lebih parah kondisinya

Keputusan tersebut diambil bukan tanpa alasan. Menurut pengakuan warga tersebut, masih banyak penyintas lain yang kondisinya dinilai lebih berat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X