Ia menilai, keterlibatan militer sejatinya memiliki potensi besar, terutama dalam aspek logistik, mobilisasi, dan akses ke wilayah terdampak yang sulit dijangkau.
Namun demikian, peran tersebut perlu diatur secara jelas dalam sebuah sistem nasional yang terpadu.
“Perlu kejelasan mengenai peran TNI, bagaimana pemanfaatan alutsista, dan bagaimana mekanisme penyaluran bantuan dilakukan. Semua itu harus berada dalam satu kerangka yang dibangun bersama,” tuturnya.
Tanpa aturan dan koordinasi yang solid, potensi dukungan militer dikhawatirkan tidak optimal dalam membantu penanganan krisis kemanusiaan.
Kritik kesiapan Indonesia hadapi bencana
Lebih jauh, Aisha menyampaikan kritik konstruktif terhadap kesiapan Indonesia dalam menghadapi bencana.
Baca Juga: Terisolasi pascabencana, warga Sibolga tempuh 5 jam susuri gunung demi jemput bantuan logistik
Menurutnya, meskipun Indonesia memiliki pengalaman panjang menghadapi bencana alam, sistem nasional yang ada belum sepenuhnya mencerminkan kesiapan tersebut.
“Indonesia tidak terlihat seperti negara yang siap, padahal sudah memiliki banyak pengalaman menghadapi bencana alam,” ungkapnya.
Ia mendorong agar pemerintah segera menyusun kerangka nasional penanganan bencana yang disesuaikan dengan kapasitas dan sumber daya yang dimiliki Indonesia.
Dorong integrasi teknologi sipil dan militer
Sebagai penutup, Aisha menekankan pentingnya integrasi teknologi antara sektor sipil dan militer, mulai dari sensor cuaca, pemantauan gempa, hingga radar, untuk mendukung sistem peringatan dini dan respons bencana.
“Integrasi teknologi sipil dan militer sangat diperlukan agar penanganan bencana bisa dilakukan lebih cepat, tepat, dan terkoordinasi,” pungkasnya.
Artikel Terkait
JPP Promedia bahas perang harga hingga strategi Suzuki di pasar hybrid
CEO Promedia: Bersihkan oknum MBG, program unggulan Presiden jangan jadi proyek pribadi
JPP Promedia bahas konsep self policing bersama Ketua DIKPI, dorong kesadaran masyarakat jadi polisi bagi diri sendiri
Bikin haru! Kepolosan bocah pengungsi Aceh Tamiang lompat kegirangan saat dapat bantuan baju baru
Terisolasi pascabencana, warga Sibolga tempuh 5 jam susuri gunung demi jemput bantuan logistik
Tak ada sinyal pascabencana, pria ini tempuh 66 kilometer jalan kaki dari Sibolga ke Tarutung demi kabarkan keluarga
Terisolir pascabanjir, warga Bonan Dolok Tapteng jalan kaki dan seberangi sungai demi jemput bantuan logistik