Berdasarkan analisis teknikal harian Investing.com, saham SMRA masih memperoleh sinyal 'Sangat Jual'.
Penilaian tersebut berasal dari perhitungan sejumlah indikator teknikal dan rata-rata bergerak. Untuk rata-rata bergerak, mulai dari MA5 hingga MA200, secara keseluruhan masih menunjukkan sinyal 'Sangat Jual'.
Sementara itu, indikator teknikal harian juga memperlihatkan kondisi serupa. Sebanyak enam indikator memberikan sinyal jual dan tidak terdapat indikator yang memberikan sinyal beli.
Sinyal tersebut menunjukkan tekanan teknikal terhadap saham SMRA belum sepenuhnya mereda, meskipun harga sempat mengalami penguatan dalam perdagangan intraday.
Namun, pembacaan indikator teknikal tersebut perlu dilihat sebagai hasil perhitungan berdasarkan pergerakan harga dan indikator pasar.
Sinyal dapat berubah mengikuti perkembangan harga, volume transaksi, serta informasi terbaru yang memengaruhi perdagangan saham.
Baca Juga: Ramai di medsos, gaya istri pejabat Kalsel disindir seperti ratu yang dikipas-kipas rakyatnya
Dengan demikian, sinyal 'Sangat Jual' tersebut bukan merupakan rekomendasi personal dari analis kepada investor untuk mengambil keputusan tertentu.
Saham SMRA anjlok 13,25 persen
Tekanan paling besar terhadap saham SMRA terjadi pada Selasa, 15 September 2026.
Penurunan tersebut berlangsung sehari setelah Presiden Direktur Summarecon Agung, Adrianto Pitojo Adhi, terjaring operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Pada perdagangan 15 September, saham SMRA anjlok 13,25 persen. Harga saham yang sebelumnya berada di level Rp332 kemudian turun menjadi Rp288.
Dalam lima hari perdagangan, saham perusahaan pengembang properti tersebut tercatat terkoreksi Rp46 atau sekitar 13,77 persen.