Bertani kakao bisa jadi sumber penghasilan stabil
Dari sisi teknis, tanaman kakao memiliki keunggulan karena dapat dipanen secara berkelanjutan.
Baca Juga: Kebakaran hanguskan 30 rumah di Johar Baru Jakpus, 240 jiwa terdampak dan mengungsi
Tidak seperti tanaman musiman, kakao menghasilkan buah sepanjang tahun meski tetap memiliki masa panen raya.
Mugi mencontohkan, untuk bibit sambung pucuk, tanaman kakao sudah bisa mulai berbuah dalam waktu sekitar dua tahun, bahkan dalam beberapa kasus bisa lebih cepat.
Sementara dari biji (seedling), waktu berbuah berkisar tiga hingga empat tahun.
“Kalau dikelola dengan baik, kakao ini bisa jadi sumber penghasilan yang stabil. Di Lampung misalnya, hasil panen langsung dibeli pedagang. Ini sangat membantu ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Baca Juga: Momen Wamen Imipas Silmy Karim serahkan diri ke KPK, ricuh saat ajudan dorong wartawan
Dorongan untuk generasi muda: Bertani sambil bekerja
Mugi juga menyoroti pentingnya mengubah pola pikir generasi muda terhadap dunia pertanian.
Ia menilai bertani tidak harus menjadi pekerjaan utama, tetapi bisa dijalankan bersamaan dengan pekerjaan lain sebagai bentuk investasi atau tabungan jangka panjang.
“Anak muda bisa tetap kerja di industri atau usaha lain, tapi bertani jadi tambahan penghasilan. Yang penting dikelola dengan baik,” ujarnya.
Namun, ia menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menjaga stabilitas harga komoditas.
Baca Juga: Polres Subang gelar sertijab Kapolsek Cibogo dan Purwadadi, berikut perubahan jabatannya
Menurutnya, kepastian harga akan membuat petani lebih percaya diri dalam mengembangkan usaha.