Baca Juga: Wanita tewas di Tangsel diduga dibunuh mantan suami, ini kronologinya
“Sehingga kita melatih sesuai dengan apa yang bisa kita perkirakan, kalau mau tidak bilang sembarangan,” ungkapnya.
Risiko ‘pengangguran terlatih’
Rona bahkan mengibaratkan kondisi saat ini seperti pengusaha warteg yang memasak tanpa mengetahui kebutuhan pasar.
Akibatnya, pelatihan yang diberikan berpotensi tidak sesuai dengan kebutuhan industri.
“Kita melatih A, B, C, D tapi yang dibutuhkan D, E, F, G, akhirnya jadi mubazir. Kita hanya menciptakan pengangguran terlatih,” tegasnya.
Baca Juga: Ujian kenaikan sabuk Inkanas Subang digelar di Polres, cetak karateka berprestasi
Ia mencontohkan pelatihan seperti forklift, security, welding, hingga sewing yang selama ini dilakukan belum tentu sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Perlu kolaborasi dengan dunia pendidikan
Lebih lanjut, Rona menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan Dinas Pendidikan.
Hal ini untuk memastikan lulusan pendidikan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri, terutama dengan masuknya investasi baru di Subang seperti sektor kendaraan listrik.
“Jangan sampai yang diberikan di pendidikan juga menjadi sia-sia, begitu lulus mereka tidak punya kemampuan yang dibutuhkan oleh perusahaan, mismatch antara pendidikan dan kebutuhan perusahaan,” ujarnya.
Baca Juga: Ikan sapu-sapu diburu warga Jakarta, rusak turap hingga ancam ekosistem sungai
Ia juga mencontohkan kebutuhan keterampilan khusus seperti bahasa Mandarin yang tidak bisa dipenuhi hanya dengan pelatihan singkat.
“Tidak mungkin kita memberikan pelatihan bahasa sesuai harapan perusahaan hanya dalam tiga bulan dengan anggaran terbatas,” katanya.