Tak lama berselang, Trump membalas dengan menaikkan tarif impor barang asal China hingga 100 persen serta membatasi ekspor perangkat lunak penting ke Beijing.
Kebijakan saling balas tersebut menimbulkan efek domino terhadap rantai pasok global, termasuk Indonesia yang masih bergantung pada kestabilan ekspor bahan mentah dan manufaktur.
Kadin: Ketidakkonsistenan kebijakan global lebih bahaya dari tarif
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, menilai perang tarif antara AS dan China menunjukkan ketidakkonsistenan kebijakan global yang berpotensi mengguncang pasar dunia.
“Tarif itu bukan hanya soal saling mengungguli. Yang lebih bahaya justru ketidakkonsistenan kebijakan yang terus berulang,” kata Anindya saat Indonesia International Sustainability Forum (IISF) di Jakarta, 11 Oktober 2025.
Ia menambahkan, kondisi ini menjadi alasan kuat bagi Indonesia untuk memperluas pasar ke kawasan Eropa yang dinilai lebih stabil dan memiliki ukuran pasar mencapai 21 triliun dolar AS.
“Karena market size-nya besar dan kebijakan mereka lebih stabil, itu menjadi peluang bagi kita,” ujarnya.***