Sektor asuransi kini memasuki babak baru dengan pemanfaatan big data analytics dan kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga: JPP Promedia bahas perang harga hingga strategi Suzuki di pasar hybrid
Data perilaku, gaya hidup, dan riwayat kesehatan nasabah menjadi bahan utama untuk menciptakan produk usage-based insurance, di mana premi disesuaikan dengan kebiasaan pengguna.
Pendekatan ini juga membantu menekan potensi fraud. Menurut Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), praktik kecurangan klaim bisa mencapai 10 persen dari total klaim tahunan.
Dengan AI, proses validasi dokumen klaim kini bisa dilakukan kurang dari 24 jam, menurunkan waktu penyelesaian dari rata-rata tujuh hari kerja, dan meningkatkan akurasi deteksi fraud hingga 90 persen.
Baca Juga: Kang Akur ajak ASN dan warga Subang jadikan kebersihan sebagai karakter
Selain efisiensi, sistem digital ini juga memperkuat transparansi dan auditabilitas, sejalan dengan semangat good governance yang terus digencarkan regulator.
Inovasi produk: Personal, inklusif, dan terjangkau
Teknologi juga memungkinkan industri asuransi menghadirkan produk yang lebih personal dan inklusif, seperti asuransi perjalanan berbasis jarak tempuh atau proteksi kesehatan jangka pendek.
Namun, tantangan masih besar.
Data OJK per Februari 2025 menunjukkan tingkat penetrasi asuransi Indonesia baru 2,72 persen terhadap PDB, jauh di bawah Malaysia (4,8 persen) dan Singapura (11,4 persen).
Baca Juga: Gelombang penolakan atlet Israel ke Indonesia, dari PDI-P hingga Gubernur DKI Jakarta
Angka ini menandakan masih luasnya potensi pasar, namun juga memperlihatkan perlunya penguatan kepercayaan publik agar masyarakat mau menggunakan layanan keuangan dan asuransi formal.
Menatap masa depan industri keuangan
Transformasi digital bukan tren sesaat, melainkan strategi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan industri.
Integrasi data, AI, inovasi produk, dan tata kelola yang kuat menjadi kunci untuk bertahan di tengah persaingan dan disrupsi yang terus terjadi.