Sekretaris Perusahaan PT ANTAM Tbk, Wisnu Danandi Haryanto, menyampaikan bahwa program ini mencerminkan pendekatan keberlanjutan yang menyeluruh.
“Program Garitan Kalongliud menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga mencakup penguatan ekonomi dan ketahanan sosial. ANTAM meyakini bahwa pendekatan berbasis ekosistem mampu menciptakan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Wisnu, model pertanian sirkular yang dikembangkan di Kalongliud diharapkan menjadi referensi penguatan desa berbasis potensi lokal sekaligus mendukung strategi keberlanjutan perusahaan dalam menjaga stabilitas sosial dan lingkungan di sekitar wilayah operasional.
Dari lahan tidur yang kembali produktif, Kalongliud menunjukkan bahwa pemulihan desa dapat dimulai dari sistem yang tepat, membangun ketahanan pangan dan ekonomi secara berkelanjutan dari tingkat akar rumput.***
Artikel Terkait
Zulhas soroti potensi ekonomi Rp86 triliun di balik program MBG, Indonesia bisa tiru pola Brasil dukung petani lokal
Durian murah pascabanjir, petani Tapanuli Tengah harus seberangi sungai dan jalan longsor demi bertahan hidup
Pemulihan pertanian jadi kunci hidup 80 persen warga, influencer Virdian Aurellio soroti kondisi petani Aceh Tamiang pascabanjir
Petani Aceh Utara tetap menanam padi meski lumpur setinggi pinggang
Dari kepedulian, hadir perlindungan: RS Hamori gratiskan BPJS Ketenagakerjaan untuk 1.000 ojol dan petani di Subang
Pegiat lingkungan Cisarua tegaskan longsor bukan semata alih fungsi lahan: Petani jangan dijadikan kambing hitam
Putus rantai tengkulak, Polri fasilitasi KUR dan penyerapan bulog bagi petani jagung