Tanpa akses penuh ke laporan keuangan, data polis, hingga rekam jejak hukum, proses due diligence menjadi bias.
“Transparansi memperkuat kepercayaan dan memastikan konsolidasi berjalan sesuai prinsip GCG,” ujar Wahyudin.
OJK dinilai dapat mendorong penggunaan data room digital agar akses informasi menjadi setara dan terstandar bagi semua pihak yang terlibat.
Baca Juga: Prabowo ultimatum pejabat: Stop permainkan anggaran, negara butuh setiap rupiah
Danantara Indonesia: Konsolidasi untuk efektivitas dan integritas
Managing Director Danantara Indonesia, Reza Yamora Siregar, menekankan bahwa merger perusahaan asuransi BUMN merupakan bagian dari pembentukan holding yang berorientasi pada efektivitas manajemen dan tata kelola yang transparan.
“Konsolidasi tidak hanya soal modal, tetapi juga membangun perusahaan dengan kapasitas besar, teknologi mumpuni, dan SDM kompetitif,” tegas Reza.
Regulator dan pemegang saham pun dituntut menerapkan disiplin tata kelola, termasuk akurasi pelaporan dan audit menyeluruh sebelum keputusan konsolidasi diambil.
Membangun industri yang kuat
Konsolidasi bukan persoalan memperbesar neraca, tetapi memperkuat fondasi transparansi dan manajemen risiko.
Jika due diligence dilakukan dengan benar dan akuntansi tetap jujur, konsolidasi tidak akan menjadi tambal sulam, tetapi strategi untuk memperkuat industri.
Ogi menilai langkah ini dapat meningkatkan kepercayaan publik, menurunkan risiko sistemik, serta memperkuat stabilitas dan daya saing industri perasuransian nasional.
Konsolidasi yang ideal adalah tentang membeli nilai, bukan membeli masalah, membangun industri yang tidak hanya besar, tetapi juga sehat dan dipercaya.***