Sempat akan dibantu presiden, ternyata ini yang menyebabkan Sritex tutup dan PHK seluruh karyawannya

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Sabtu, 1 Maret 2025 | 16:19 WIB
Sritex resmi tutup mulai 1 Maret 2025 dan PHK seluruh karyawan (Instagram.com/sritexindonesia)
Sritex resmi tutup mulai 1 Maret 2025 dan PHK seluruh karyawan (Instagram.com/sritexindonesia)

Penyebab kebangkrutan Sritex

Ekonom menilai salah satu faktor utama yang menyebabkan kebangkrutan PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL) atau Sritex adalah kurangnya investasi dalam inovasi teknologi serta tingginya beban produksi. 

Founder Next Policy sekaligus Ekonom Senior, Fithra Faisal Hastiadi, mengungkapkan bahwa ketidakmampuan Sritex untuk memperbarui teknologi membuatnya kalah bersaing di pasar.

Baca Juga: Spesifikasi BBM Pertamina berdasarkan Dirjen Migas: Pertamax ada timbal, Pertalite malah tak ada

"Sekarang Sritex udah begini karena tekanan ongkos produksi, dia tidak bisa berkompetisi, salahinnya China. Sebenarnya salahnya dia kenapa tidak mampu berinovasi," kata Fithra dalam agenda Dominasi Impor Produk China terhadap Industri Lokal, Selasa 24 Desember 2024 lalu.

Ia menjelaskan bahwa Sritex tidak berinvestasi dalam modernisasi mesin maupun ekspansi pasar. 

Kondisi ini sudah menjadi masalah sebelum adanya tantangan eksternal lainnya. 

Namun, Sritex justru menyalahkan kepailitannya pada banjir barang impor China dan kebijakan relaksasi impor yang diatur dalam Permendag 8/2024.

"Ya makanya sekarang collapse, yang disalahin adalah Permendag 8, padahal Permendag 8 itu hadir setelah dia punya masalah itu. Mungkin iya menambah kompleksitas," jelasnya.

Baca Juga: Bakal diperkenalkan Maret 2025, nama besar penasihat teknis anyar Garuda Jordi Cruyff sempat bikin ‘gentar’ Erick Thohir saat nego

Fithra juga menyoroti bahwa regulasi seperti rencana kenaikan PPN menjadi 12 persen serta peningkatan upah minimum provinsi (UMP) sebesar 6,5 persen pada tahun depan turut berdampak pada daya beli masyarakat. 

Dalam laporan terbaru Next Policy, kebijakan tersebut disebut berkontribusi terhadap lonjakan impor, memperburuk tantangan industri lokal, dan menciptakan persaingan yang tidak seimbang.

"Sebenarnya kalau dibandingin antara PPN sama UMR, saya tuh lebih takut sama UMR,” ungkapnya.

“Kenapa? PPN itu 1 persen itu buat barang premium, itu end product, buat input produksi enggak terlalu berdampak. Yang paling berdampak pada input produksi apa? UMR naik 6,5 persen," jelasnya.

Menurut dia, kenaikan upah minimum memperburuk tekanan biaya produksi, membuat industri sulit bersaing dengan produk impor China yang lebih murah. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X