Dalam pertemuan dengan para saudagar di Atjeh Hotel Kutaradja, Soekarno mengajak masyarakat Aceh untuk membantu pembelian pesawat yang disebutnya sebagai “jembatan udara” bagi Indonesia.
Ajakan tersebut disambut antusias oleh masyarakat, termasuk Nyak Sandang yang saat itu masih berusia 23 tahun.
Baca Juga: 600 Pohon pisang diduga diracun, curhatan pilu petani ini viral dan tuai simpati
Jual tanah demi negara
Nyak Sandang bersama ayahnya kemudian menjual sepetak tanah berisi 40 batang pohon kelapa seharga Rp100.
Tidak hanya itu, ia juga menambahkan sumbangan berupa 10 gram emas untuk mendukung pembelian pesawat.
Donasi tersebut menjadikannya sebagai salah satu penyumbang penting dalam pembelian Seulawah RI-001.
Pesawat untuk misi diplomasi
Seulawah RI-001 yang dibeli dari hasil donasi rakyat kemudian digunakan untuk berbagai kepentingan negara, termasuk misi diplomasi.
Baca Juga: Disnakertrans Subang klarifikasi data ke BYD dan VinFast usai disentil Dedi Mulyadi
Pesawat tersebut pernah digunakan untuk mengantarkan Wakil Presiden Mohammad Hatta dalam perjalanan dinas berkeliling Sumatera.
Kontribusi tersebut menjadi bukti nyata peran rakyat dalam mempertahankan dan membangun Indonesia di masa awal kemerdekaan.
Kepergian Nyak Sandang pun meninggalkan duka sekaligus penghormatan atas jasa besarnya bagi bangsa.***