Baca Juga: Mahfud MD soroti Polri yang 'dibedah habis' publik: Bahaya jika tak viral, tak ada tindakan
Secara visual, lukisan ini menggunakan teknik mix media di atas kanvas berukuran 60 x 100 sentimeter.
Tekstur bertumpuk dan gestur kasar dibaca sebagai metafora konflik batin manusia, menghadirkan kegelisahan alih-alih kenyamanan bagi penikmatnya.
Seni, stoisisme, dan pengendalian diri
Dalam diskusi, Fileski juga mengaitkan karya ini dengan filsafat Stoisisme.
Menurutnya, baik dalam kisah Qabil–Habil maupun Stoisisme, pengendalian diri menjadi inti kemanusiaan.
Baca Juga: Jalan amblas dan harapan Ramadan anak-anak Desa Uyem Beriring Gayo Lues usai banjir dan longsor
Qabil diposisikan sebagai contoh manusia yang gagal mengelola respons batinnya terhadap peristiwa eksternal, sehingga membiarkan amarah dan iri hati berkembang menjadi kekerasan.
Perspektif ini dinilai relevan dengan kondisi sosial kontemporer.
Puisi dan peluncuran komunitas Rusa Terbang
Acara semakin khidmat ketika Anindya Bella membacakan puisi yang terinspirasi dari tema dendam, kesunyian batin, dan pencarian kesadaran.
Pembacaan puisi tersebut memperkaya dialog lintas medium antara seni rupa dan sastra.
Baca Juga: DLH Bekasi pastikan cacahan di TPS liar merupakan uang rupiah asli, asal-usul masih ditelusuri
Selain bedah karya, malam itu juga menjadi momentum peluncuran komunitas seni Rusa Terbang, yang diperkenalkan sebagai ruang kolaborasi lintas disiplin seni di Kota Madiun.
Komunitas ini bertujuan membuka dialog kritis dan berkelanjutan dalam ekosistem seni lokal.