GENMILENIAL.ID — Diskusi seni bertajuk Laungan di Atas Kanvas digelar di Heyhouse Cafe, Jalan Sirsat No. 7, Kota Madiun, Rabu malam 4 Februari 2026.
Kegiatan ini membedah karya lukisan Hegemoni Tiran ciptaan perupa Dwi Kartika Rahayu, sekaligus menandai peluncuran komunitas seni baru bernama Rusa Terbang.
Acara yang dimulai pukul 19.30 WIB tersebut dihadiri pegiat seni, mahasiswa, penulis, hingga masyarakat umum yang tertarik pada diskursus seni rupa kontemporer.
Diskusi dipandu oleh Shalihah Ramadhani dan berlangsung dalam suasana hangat serta reflektif.
Baca Juga: Arahan Presiden Prabowo, Polres Subang gaspol bersihkan lingkungan dan kawasan wisata
Lukisan sebagai refleksi etis kekuasaan
Pemapar kuratorial, Fileski W Tanjung, menempatkan Hegemoni Tiran bukan semata sebagai ekspresi visual, melainkan sebagai ruang refleksi etis yang menyinggung persoalan kekuasaan, dendam, dan kegagalan manusia mengendalikan diri.
“Tesis utama karya ini adalah bahwa kejahatan kontemporer tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari hasrat menguasai yang gagal dikendalikan,” ujar Fileski dalam pemaparannya.
Ia menjelaskan bahwa kisah Qabil dan Habil menjadi fondasi etik dalam karya tersebut.
Baca Juga: Tabayyun materi mens rea, MUI ungkap dua poin penting hasil pertemuan dengan Pandji Pragiwaksono
Namun, narasi tersebut tidak dibaca secara religius semata, melainkan sebagai simbol arketipal tentang manusia yang kalah oleh iri dan dendam, sebuah kondisi mental yang menurutnya terus berulang dalam konteks modern.
Energi dendam dalam visual lukisan
Perupa Dwi Kartika Rahayu mengungkapkan bahwa Hegemoni Tiran lahir dari perenungan panjang tentang apa yang ia sebut sebagai 'energi usang' berupa dendam dan iri hati yang diwariskan lintas generasi.
“Ketika pikiran dipenuhi dendam, manusia kehilangan kejernihan. Dunia terasa seperti neraka, bukan karena kurang keindahan, tetapi karena berlebihan hasrat menguasai,” tuturnya.