“Malam itu sebelum jam 12 sudah tidur. Tiba-tiba adik sepupu ketuk pintu, pas dibuka air sudah masuk. Nggak sempat ambil apa-apa,” tuturnya.
Aisyah mengatakan, dirinya hanya sempat menyelamatkan pakaian yang melekat di badan. Barang-barang lain tak terselamatkan.
“Ibu sudah merinding, gemetar, takut. Kami langsung ke meunasah, lalu ke masjid. Air terus naik, yang paling parah memang di sini,” ucapnya.
Tetap masak di dapur umum meski jadi korban
Meski rumahnya kini tidak layak huni dan harus tinggal di tenda pengungsian, Aisyah memilih ikut membantu di posko dapur umum sejak hari pertama pascabanjir.
Baca Juga: Ojol dilibatkan jaga kondusivitas Subang, Kapolres: Keamanan tanggung jawab bersama
Menurutnya, keputusan itu lahir dari rasa iba melihat sesama korban yang juga kesulitan.
“Dari hari pertama sudah ikut masak. Kadang orang pulang bersih-bersih rumah, tapi kami mikir, kasihan kalau nggak ada yang masak,” katanya.
Dengan penuh keikhlasan, Aisyah dan warga lainnya terus membantu menyediakan makanan bagi para pengungsi.
“Ikhlaskan saja, biar Allah yang balas. Kalau banyak ujian, berarti Allah sayang. Alhamdulillah, kami senang bisa bantu, bisa meringankan beban orang lain,” tuturnya.
Pidie Jaya masih berstatus tanggap darurat
Hingga saat ini, Kabupaten Pidie Jaya masih berstatus tanggap darurat bencana yang berlaku hingga 28 Januari 2026.
Status tersebut ditetapkan untuk memastikan proses penanganan korban, distribusi bantuan, serta pemulihan infrastruktur berjalan optimal.
Pemerintah daerah bersama relawan terus berupaya memberikan bantuan kepada warga terdampak, sembari memastikan kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal sementara, dan layanan kesehatan tetap terpenuhi.***