“Kami bukan orang malas di sini, kami orang petani, Pak. Kami tahu diri,” lanjutnya dengan suara bergetar.
Pernyataan tersebut menggambarkan semangat kemandirian warga Aceh Tengah yang ingin kembali bangkit melalui kerja keras, bukan sekadar menunggu uluran tangan.
Anak-anak kehilangan sekolah dan penerangan
Tak hanya soal ekonomi, dampak bencana juga dirasakan langsung oleh anak-anak di desa tersebut.
Kepala desa mengungkapkan, banyak anak kehilangan akses pendidikan akibat seragam hanyut dan tidak adanya penerangan listrik.
“Anak-anak kami sudah berbulan-bulan ini tidak mengaji karena tidak ada penerangan. Tidak sekolah karena seragamnya hanyut,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa yang dibutuhkan warga saat ini adalah pemulihan menyeluruh agar kehidupan bisa kembali normal.
Baca Juga: Panen raya jagung Polres Subang jadi bukti peran aktif Polri dorong swasembada pangan nasional
Viral di media sosial, warganet doakan Aceh Tengah
Unggahan Salim A Fillah tersebut viral dan hingga Kamis 8 Januari 2026 telah disukai lebih dari 115 ribu pengguna Instagram. Kolom komentar dipenuhi doa dan dukungan untuk warga Aceh Tengah.
“Ya Allah, angkat derajat saudara kami di Sumatera dan Aceh, mudahkan urusannya,” tulis akun @guppymida.
“Semoga akses segera dibuka dan kehidupan mereka kembali normal,” tulis warganet lainnya.
Curahan hati ini kembali mengingatkan bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya soal bantuan logistik, tetapi membuka kembali akses kehidupan bagi masyarakat.***