Syaiful Rosi Abdillah (13 tahun) adalah korban terakhir yang berhasil diselamatkan dalam kondisi hidup.
Ia bertahan tiga hari di bawah puing tanpa makan dan minum, sebelum akhirnya diselamatkan pada Kamis malam, 2 Oktober 2025.
Baca Juga: Garuda Muda matangkan persiapan menuju SEA Games 2025: TC dua tahap, Marselino masih dalam radar tim
Kakinya yang remuk akibat tertimpa beton harus diamputasi. Namun, Rosi mengaku tak henti berzikir dan membaca selawat untuk menenangkan diri.
“Beton semua, nggak bisa dorong. Kami minta tolong bareng-bareng tapi nggak kedengaran,” ujarnya lirih dari ruang perawatan RSUD Sidoarjo.
Salat di tengah reruntuhan
Kisah lain datang dari Syahlendra Haikal (13 tahun), yang tetap menunaikan salat meski tubuhnya terhimpit reruntuhan.
Dalam kondisi sakit dan sulit bergerak, Haikal mengaku masih berusaha salat berbaring bersama temannya, Yusuf (16 tahun), yang kemudian meninggal dalam posisi sujud.
Baca Juga: Prabowo tegaskan TNI harus kuasai AI dan jaga kekayaan alam: Amanat tegas di HUT ke-80 TNI
“Saya salat berbaring. Pas Subuh, teman saya sudah nggak bersuara lagi,” tutur Haikal setelah dievakuasi.
Kisahnya menjadi simbol keteguhan iman di tengah maut yang begitu dekat.
Mengira hanya tertidur
Kisah tak kalah mengharukan datang dari Al Fatih Cakra Buana (14 tahun). Ia selamat karena bagian kepalanya terlindungi seng dan tubuhnya tertimbun pasir.
Fatih mengira dirinya hanya tertidur selama tiga hari.
“Rasanya seperti mimpi, seperti jalan-jalan di tempat gelap, naik mobil pikap, tapi nggak tahu ke mana,” ujarnya polos.