Puisi: Titik temu ilmu, estetika, dan spiritualitas
Salah satu kekhasan tradisi Persia adalah tempat istimewa puisi dalam berbagai bidang kehidupan.
“Bahkan teks medis Avicenna (Ibn Sina) pun ditulis dalam bentuk syair,” ungkap Yanuardi.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam budaya Persia, keindahan dan ilmu saling terjalin, bukan berdiri sendiri.
Baca Juga: Polda Jabar ungkap jaringan narkoba asal Aceh, 3 tersangka dan 3,2 kg sabu disita
Puisi juga menjadi instrumen relasi sosial dan politik, terutama dalam bentuk qasidah yang mengandung pujian sekaligus afirmasi terhadap patronase kekuasaan.
Era sufistik: Rumi, Sa’di, dan Hafiz
Abad ke-13 menjadi tonggak perubahan besar dalam lanskap sastra Persia.
Muncul aliran puisi sufistik yang lebih intim dan penuh kerinduan transenden.
“Puisi menjadi artikulasi dari pengalaman mistik dan spiritual masyarakat,” jelas Yanuardi.
Melalui ghazal, para penyair seperti Rumi, Sa’di, dan Hafiz menciptakan ruang perjumpaan antara bahasa manusia dengan bahasa Ilahi.
Baca Juga: Plot twist emak-emak: Polisi kejar tersangka, dua ekor sapi ikut berlari
Lantunan cinta tak hanya bersifat duniawi, tapi juga metafora kerinduan terhadap Sang Pencipta.
Beberapa kutipan puisi Persia yang terkenal, bahkan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, berbunyi:
"Everywhere I look I am reminded of your love. You are my world."