humaniora

CERPEN: Takbir Padang Karbala

Rabu, 9 Juli 2025 | 04:17 WIB
Ilustrasi - Takbir Padang Karbala

Ini bukan tentang Syiah dan Sunni. Ini tentang api abadi yang membakar hati, berabad-abad lamanya, tapi panas dan baranya tetap menyala hingga hari ini ...

Angin Muharram berbisik, membawa aroma keluh kesah dan janji pengampunan. Aku berdiri di Padang Karbala, sebuah hamparan tanah yang membentang tak terbatas, warnanya bukan cokelat tanah, melainkan gradasi merah dan ungu seperti memar abadi di cakrawala.

Di sana-sini, kaktus-kaktus tumbuh menjulang, bukan dengan duri, melainkan dengan air mata yang membeku di ujung-ujungnya.

Di sekelilingku, jutaan siluet berkelebat. Bukan manusia hidup, tapi para syuhada dari segala zaman, jiwa-jiwa yang telah mengalirkan darah demi kebenaran.

Baca Juga: Viral dua driver ojol bantu ibu dan anak di flyover, warganet terharu: Dunia masih punya orang baik

Mereka berjalan tanpa suara, kaki-kaki mereka tak menyentuh tanah, melainkan melayang satu jengkal di atasnya, seolah menolak meninggalkan jejak yang bisa dihapus angin.

Cahaya lembut memancar dari setiap bekas luka di tubuh mereka, menerangi padang yang remang-remang.

Tiba-tiba, dari balik bukit pasir yang menyerupai gundukan buku-buku sejarah yang terlupakan, muncul jutaan sosok mungil.

Mereka adalah anak-anak yatim sedunia, dari setiap benua, setiap warna kulit. Mata mereka yang polos memancarkan cahaya bintang, dan di tangan-tangan mungil mereka, mereka memegang lentera-lentera kecil yang terbuat dari tetesan air mata.

Baca Juga: Pocil Subang bikin bangga! Presiden terkesan, Kakorlantas terharu, Bupati apresiasi

Lentera itu tak padam, bahkan oleh angin Karbala yang paling keras sekalipun.

Seorang anak laki-laki berambut pirang dari Eropa Timur, dengan pipi belepotan sisa cokelat, mendekatiku. "Paman," katanya dengan suara nyaring namun lembut, "Apakah di sini tempat Sayyidina Husain mencarikan kami minum?"

Aku ingin menjawab, ingin menjelaskan tentang sumur-sumur kering dan Sungai Eufrat yang dijaga ketat.

Tapi kata-kataku tercekat di tenggorokan. Tiba-tiba, seorang gadis kecil dari Afrika, dengan kalung manik-manik berwarna cerah, menunjuk ke langit.

Halaman:

Tags

Terkini