Puing-puing berserakan di mana-mana. Gedung Bursa Efek Israel, yang seharusnya gemuruh oleh dering telepon dan teriakan para pialang, kini hening mencekam.
Debu-debu tebal menyelimuti layar-layar digital yang menampilkan angka-angka merah membara, simbol ambruknya ekonomi Zionis.
Hanya ada satu suara yang memecah kesunyian: desingan angin yang membawa aroma mesiu Rudal berkarat dan keputusasaan massal kaum Zionis.
Benjamin Netanyahu, dengan setelan jasnya yang kusut dan dasi yang miring entah ke mana, duduk meringkuk di bawah meja, berusaha menyamarkan dirinya di balik tumpukan koran Globes edisi teranyar.
Baca Juga: Zohran Mamdani ukir sejarah, jadi muslim pertama menang pemilihan Wali Kota New York
Matanya melotot pada headline yang berteriak, "450.000 Prajurit Cadangan Dipanggil! Biaya Personel Membengkak!"
"Ini bukan perang, ini ... ini tagihan katering! ... ini kiamat rudal!" gumamnya getir, menunjuk pada angka fantastis yang tertera di surat kabar.
"Mereka bahkan meminta shawarma gratis setiap hari Jumat! Shawarma! Di tengah perang!"
Tiba-tiba, pintu kaca yang pecah berderak. Masuklah sosok Donald Trump, dengan rambut pirangnya yang keperakan tetap kokoh meski dihantam badai puing.
Ia membawa sebuah papan tulis mini dan spidol merah, siap untuk presentasi dadakan.
"Benny, Benny! Ini gila! Ekonomi kalian, _it's a disaster!" Trump menepuk pundak Netanyahu, yang gemetar ketakutan.
"Tapi jangan khawatir, saya punya solusinya. Ini tentang branding, Benny. Selalu tentang branding!"
Ia mulai menulis di papan tulisnya: "GREAT ISRAEL ECONOMY! Make Shekel Great Again!"