GENMILENIAL.ID - Di balik wajah tenang dan sorot mata tajamnya, Soe Hok Gie menyimpan amarah terhadap kebohongan yang dilanggengkan oleh kekuasaan.
Aktivis mahasiswa, penulis, sekaligus intelektual muda yang hidup di masa transisi kekuasaan Orde Lama ke Orde Baru ini, adalah suara keras yang tak pernah lelah meneriakkan kejujuran dan kemurnian perjuangan.
Bagi Gie, politik bukanlah tempat untuk bermain topeng. Ia mencela para elite yang memanipulasi rakyat dengan jargon revolusi, tetapi sesungguhnya hanya mengejar kekuasaan.
Baca Juga: Cuaca panas ekstrem ancam jemaah haji, pemerintah imbau kurangi aktivitas berat jelang puncak ibadah
Dalam catatannya yang kini abadi dalam Catatan Seorang Demonstran, Gie menulis:
“Yang paling aku benci adalah politikus yang memanipulasi massa untuk kepentingan pribadi.”
Gie hidup dalam atmosfer yang dipenuhi kemunafikan, ketika kata 'revolusi' lebih sering digunakan untuk membenarkan tindakan kekerasan dan pencitraan.
Ia menyaksikan bagaimana mahasiswa dijadikan alat, rakyat diperalat, dan idealisme dijual murah demi kursi kekuasaan.
Baca Juga: Dugaan ijazah palsu Jokowi, Bareskrim: Skripsi di UGM identik berdasarkan uji Labfor
Dalam puisinya yang reflektif dan getir, Gie menulis:
“Di depan para pemuka agama yang menyembunyikan nurani, aku akan bertanya: apakah kau percaya Tuhan atau hanya menjualnya demi suara?”
Sikapnya sering kali membuatnya dianggap 'nyeleneh' di kalangan elite. Namun, Gie tidak pernah takut untuk berkata jujur.
Ia memilih jalan sepi ketimbang menjadi bagian dari kerumunan yang penuh kemunafikan. Gie hidup dalam kejujuran, dalam pemikiran yang bebas dari sekat kekuasaan dan kepentingan.
Baca Juga: Bareskrim tegaskan ijazah SMA Jokowi asli, lulusan SMA 6 Surakarta tahun 1980