Ia menambahkan, gadget kerap dijadikan alat utama untuk menyelesaikan tugas sekolah, mulai dari mencari ringkasan materi hingga membaca kilasan informasi singkat.
Membaca sekilas, bukan mendalam
Lebih lanjut, Jared menilai kebiasaan belajar melalui layar telah mengubah cara Gen Z memproses informasi.
Menurutnya, manusia secara biologis lebih optimal belajar melalui interaksi langsung dan studi mendalam, bukan dengan berpindah-pindah layar secara cepat.
“Belajar dari layar telah mengubah mereka menjadi pembaca yang hanya membaca sekilas,” ungkap Jared.
Ia juga menyoroti kebiasaan sebagian Gen Z yang kerap membagikan konten seolah membaca karya sastra klasik, padahal hanya mengakses ringkasan singkat.
Dibandingkan dengan gaya belajar Milenial
Sebagai pembanding, Jared mengangkat gaya belajar generasi Milenial yang dinilai lebih berproses.
Ia menyebut, pada masanya, pelajar harus membuka buku fisik, membaca berulang, bahkan begadang semalaman demi memahami materi dan lulus ujian.
“Tanpa usaha yang sungguh-sungguh, bahkan pikiran yang cemerlang pun bisa menjadi tumpul,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi, meski membawa kemudahan, tetap memerlukan keseimbangan agar tidak menggerus kemampuan berpikir mendalam generasi muda.***