Ia menambahkan, gadget kerap dijadikan alat utama untuk menyelesaikan tugas sekolah, mulai dari mencari ringkasan materi hingga membaca kilasan informasi singkat.
Membaca sekilas, bukan mendalam
Lebih lanjut, Jared menilai kebiasaan belajar melalui layar telah mengubah cara Gen Z memproses informasi.
Menurutnya, manusia secara biologis lebih optimal belajar melalui interaksi langsung dan studi mendalam, bukan dengan berpindah-pindah layar secara cepat.
“Belajar dari layar telah mengubah mereka menjadi pembaca yang hanya membaca sekilas,” ungkap Jared.
Ia juga menyoroti kebiasaan sebagian Gen Z yang kerap membagikan konten seolah membaca karya sastra klasik, padahal hanya mengakses ringkasan singkat.
Dibandingkan dengan gaya belajar Milenial
Sebagai pembanding, Jared mengangkat gaya belajar generasi Milenial yang dinilai lebih berproses.
Ia menyebut, pada masanya, pelajar harus membuka buku fisik, membaca berulang, bahkan begadang semalaman demi memahami materi dan lulus ujian.
“Tanpa usaha yang sungguh-sungguh, bahkan pikiran yang cemerlang pun bisa menjadi tumpul,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi, meski membawa kemudahan, tetap memerlukan keseimbangan agar tidak menggerus kemampuan berpikir mendalam generasi muda.***
Artikel Terkait
Milenial dan Gen Z harus tau, ini gebrakan Kang Rey dalam atasi problem tenaga kerja di Subang: Siapkan sistem yang terintegrasi
Gejolak Nepal memanas: Revolusi Gen Z melawan korupsi dan larangan medsos
Ketua BEM UI ingatkan pejabat belajar dari protes Gen Z Nepal: Jangan hanya redakan amarah publik
Luka lama monarki belum pulih, demo Gen Z Nepal 2025 berujung krisis politik
Dari medsos ke jalanan: Pola aksi Gen Z global, dari Nepal hingga Peru pecahkan status quo politik
CoreLab 2025 di Unesa: Promedia bekali mahasiswa Gen Z skill content creator untuk hadapi persaingan digital
Viral souvenir pernikahan Gen Z pakai bibit pohon, warganet gemas pengen niru