Namun, karena para siswa akan tinggal bersama di asrama, aspek kesehatan menjadi perhatian utama.
“Sekolah rakyat tidak ada tes masuk. Tapi karena mereka tinggal di asrama, kesehatan harus diperiksa. Jangan sampai ada penyakit menular yang membahayakan yang lain,” jelasnya.
Jika ditemukan penyakit, kata Rico, siswa tetap diterima, namun terlebih dahulu menjalani pengobatan hingga dinyatakan layak untuk tinggal bersama.
“Kalau ada yang sakit menular, tetap kita terima. Tapi kita obati dulu sampai sembuh, baru kemudian masuk asrama,” ujarnya.
Kemiskinan berpengaruh langsung pada kesehatan anak
Lebih lanjut, Rico menjelaskan bahwa persoalan kesehatan ini tak lepas dari kondisi ekonomi keluarga para siswa.
Ia menyebut, berdasarkan data BPS dan Bappenas, kategori miskin ekstrem berarti pengeluaran per kapita hanya sekitar Rp400 ribu per bulan.
“Dengan kondisi seperti itu, jangankan beli vitamin atau periksa kesehatan, untuk makan saja sudah kesulitan,” jelasnya.
Menurutnya, inilah yang menyebabkan banyak anak mengalami gizi buruk, anemia, hingga kerusakan gigi.
Baca Juga: Satlantas Polres Subang gandeng FIFGroup edukasi keselamatan berkendara di SMKN 1 Subang
“Kalau untuk makan saja sulit, tentu membeli pasta gigi atau menjaga kesehatan jadi bukan prioritas. Itu fakta yang kami temukan di lapangan,” tegas Rico.
Melalui Sekolah Rakyat, Kemensos berharap anak-anak dari keluarga miskin tak hanya memperoleh pendidikan, tetapi juga mendapatkan hak dasar berupa kesehatan yang layak agar kelak mampu tumbuh menjadi generasi yang sehat dan mandiri.***