“Bentuknya asrama. Anak-anak akan berada di sekolah selama 24 jam,” ujar Rico.
Dalam sistem tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan pendidikan formal, tetapi juga pembinaan karakter secara intensif.
“Delapan jam mereka belajar seperti sekolah pada umumnya, lalu sisanya digunakan untuk pembentukan karakter,” katanya.
Rico menegaskan, tujuan akhir dari program ini adalah melahirkan generasi muda yang mampu menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing.
“Anak-anak ini diharapkan menjadi agen perubahan yang bisa memutus rantai kemiskinan, dimulai dari keluarganya sendiri,” pungkasnya.***