Setelah lulus, Sulianti bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Pusat Jakarta yang sekarang dikenal dengan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Di sana ia mencoba menelusuri awal mula kemerdekaan pada masa pendudukan Jepang. Saat ibu kota negara pindah ke Yogyakarta, Sulianti pun ikut pindah dan menjadi dokter Republik di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Di sini dia benar-benar menyerbu ke lapangan sebagai petugas medis tempur.
Dia mengirim narkoba ke kantong gerilya Republik. Ia juga aktif di beberapa organisasi tempur seperti Wanita Pembantu Perjuangan, Organisasi Putera Puteri Indonesia dan juga organisasi resmi Kongres Wanita Indonesia (KOWANI).
Pada tahun 1947, Dr Sulianti mewakili KOWANI pada Konferensi Wanita Asia di New Delhi, India. Di sana ia mengumpulkan dukungan untuk kemerdekaan Indonesia.
Baca Juga: Sinopsis movie 4 Harry Potter, “Harry Potter and the Goblet of Fire”
Karena perjuangannya itu, Sulianti ditangkap bersama para pejuang kemerdekaan lainnya ketika pasukan NICA/Hindia Belanda menduduki Yogyakarta pada Desember 1948.
Ia pun harus mendekam selama 2 bulan di penjara. Setelah revolusi kemerdekaan, Dr. Sulianti kembali ke Kementerian Kesehatan. Dia menerima beasiswa WHO untuk mempelajari manajemen kesehatan ibu dan anak di Inggris dan beberapa negara Eropa lainnya.
Setelah kembali ke negara asalnya dengan sertifikat Public Health Administration dari University of London, ia ditempatkan di Yogyakarta sebagai Direktur Departemen Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI.
Singkatnya, Sulianti mengambil kesempatan untuk mengadvokasi program kesehatan ibu dan anak bagi masyarakat. Dia juga meminta pemerintah untuk mengembangkan kebijakan penggunaan alat kontrasepsi dalam sistem kesehatan masyarakat.
Ia juga menggunakan media RRI Yogyakarta dan harian Kedaulatan Rakyat untuk menyampaikan gagasan tentang pendidikan seks, pencegahan dan program KB.
Bagi Sulianti, kemiskinan, gizi buruk, kesehatan ibu dan anak yang buruk, serta angka kelahiran yang tidak terkendali merupakan masalah mendesak yang harus segera diatasi.
Kampanye itu dan ide-idenya juga ditolak oleh banyak pihak. Ikatan Organisasi Wanita (GOW) Yogyakarta bersama beberapa dokter dan pimpinan organisasi keagamaan menentang keras gagasan tersebut. Dokter Sulianti pun mendapat teguran dari Kementerian Kesehatan.
Ia kemudian ditempatkan di Jakarta sebagai Direktur Kesehatan Ibu dan Anak di Kantor Kementerian Kesehatan.
Sekarang dr. Sulianti tak lagi bergerak sebebas dulu. Namun bukan berarti perjuangannya melawan program KB terhenti. Bersama beberapa aktivis, ia kini mendirikan Yayasan Perlindungan Keluarga (YKK).
Organisasi swasta ini telah mendirikan klinik swasta untuk memberikan pelayanan KB di berbagai kota.
Artikel Terkait
Profil dan perjuangan RA Kartini dalam memperjuangkan pendidikan bagi perempuan Jawa
Selamat Hari Pendidikan Nasional, mengupas pengertian Literasi!
9 alasan kuat mengapa pendidikan sangat penting di zaman sekarang!
Mengenal banjir, berikut 5 hal yang harus dipahami tentang bencana umum ini!
Bantu masyarakat sekitar, PT DAHANA berikan alat marawis dan hadroh ke MDTA Nurul Iman
Disiplin harus diajarkan, guru perlu memberi contoh kepada siswa!
Lautan sangat penting bagi manusia, yuk, mengenal lebih jauh tentang bagian bumi ini!