'Mismatch' pendidikan makin nyata: Sekolah dituntut berubah, masyarakat masih terjebak pola lama

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Kamis, 16 Juli 2026 | 12:33 WIB
Ucu, S.S, Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan SMP Negeri 6 Subang
Ucu, S.S, Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan SMP Negeri 6 Subang

Baca Juga: Bekas luka di tubuh balita jadi bukti dugaan aniaya ibu tiri asal Bekasi: Bermula sakit hati, berujung masuk bui

Paparan konten instan seperti video pendek dinilai berdampak pada menurunnya fokus dan meningkatnya tekanan mental pada anak.

Ia mengaitkan fenomena ini dengan pandangan pakar pendidikan Sir Ken Robinson yang menyebut sistem pendidikan modern masih menggunakan model lama berbasis standarisasi, sementara dunia luar sudah berubah drastis.

“Anak-anak sekarang hidup di era digital yang serba cepat dan visual, tapi sistem dan tuntutan masih seperti masa lalu,” katanya.

Guru terjepit di tengah tekanan

Di sisi lain, guru juga menghadapi tekanan besar. Mereka dituntut membentuk karakter siswa, namun kerap tidak mendapat perlindungan memadai saat menerapkan disiplin.

Baca Juga: Jasad dokter PPDS ditemukan di semak belukar, polisi ungkap barang korban tetap utuh

Akibatnya, banyak guru memilih bermain aman dan menjalankan rutinitas tanpa inovasi.

“Guru seperti koki yang ingin membuat menu sehat dan baru, tapi masyarakat terus memesan makanan instan,” analoginya.

Perlu re-edukasi dan kolaborasi orang tua

Untuk mengatasi kondisi ini, Ucu menekankan pentingnya re-edukasi kepada masyarakat agar memahami bahwa dunia telah berubah dan pendidikan harus ikut beradaptasi.

Ia juga menyoroti pentingnya peran orang tua dalam mengawasi perkembangan anak, baik di sekolah maupun di rumah, termasuk dalam penggunaan gadget dan pergaulan sehari-hari.

Baca Juga: Kang Rey tegaskan regulasi galian tanah merah masih digodok, targetkan dukung cetak sawah baru

Menurutnya, komunikasi antara orang tua, sekolah, dan lingkungan harus diperkuat agar pembentukan karakter anak berjalan optimal.

Tantangan bersama hadapi masa depan

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X