Bangunan sederhana tersebut diketahui merupakan hasil swadaya masyarakat dan terakhir direnovasi pada tahun 2016.
Baca Juga: Viral video wanita injak Al Quran untuk sumpah di Lebak, dua terduga pelaku diamankan polisi
Siswa harus bergantian gunakan kelas
Keterbatasan ruang membuat siswa harus bergantian menggunakan kelas.
Siswa kelas 3 baru bisa menggunakan ruang kelas setelah siswa kelas 1 selesai belajar. Saat cuaca mendukung, mereka memilih tetap belajar di luar ruangan.
SDN Tando sendiri dibangun pada tahun 2014 dan saat ini memiliki sekitar 68 siswa.
Tuai keprihatinan warganet
Kondisi tersebut memicu keprihatinan warganet yang menyoroti ketimpangan fasilitas pendidikan di daerah.
Baca Juga: Sempat diduga mobil MBG tabrak balita di Indramayu, pemilik SPPG ungkap fakta sebenarnya
“Sedih sekali, sudah berapa kali ganti pemimpin Manggarai Barat, tapi Infrastruktur masih kayak gini,” tulis akun @pau******o
“Pemerintah lagi bangun sekolah dan memperbaiki sekolah rusak, ditambah bangun jembatan. Sabar dulu lagi,” tulis akun @mai**********s
“Kesenjangan kota dengan daerah sangat jauh, dari saya kecil sampai tua masih ada yang begini,” tulis akun @bot*******7
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya pemerataan fasilitas pendidikan agar seluruh siswa di Indonesia dapat belajar dengan layak dan aman.***
Artikel Terkait
Latihan survival siswa Subang: Dari navigasi hingga tandu darurat, semua dipelajari di alam terbuka
Viral kondisi SDN Leomanu di Kupang NTT, siswa belajar di kelas yang selalu kebanjiran saat hujan deras
Viral pembagian MBG di SD Muara Badak, siswa terima kelapa utuh dibungkus plastik
Siswa SMPN 48 Sa Ate Gaikiu NTT belajar di kelas bambu rusak, video kondisi sekolah viral di medsos
Trisa Triandesa soroti pendidikan pascabencana di Aceh Tengah, siswa masih kekurangan buku
Dukung kualitas belajar, ratusan siswa di Subang terima kacamata gratis dari PKK
Demi sinyal internet, 14 siswa SMP di Sumbar ujian TKA di atas bukit beratapkan terpal