Viral curhat guru PPPK Sumedang terima gaji Rp50 ribu, dipotong BPJS tersisa Rp15 ribu

photo author
Mustafa Kamal, Genmilenial
- Senin, 9 Februari 2026 | 15:09 WIB
Menyoroti curhatan viral seorang guru PPPK di Sumedang, Jawa Barat terkait upahnya sebagai tenaga pendidik (Instagram.com/@pembasmii.kehaluan)
Menyoroti curhatan viral seorang guru PPPK di Sumedang, Jawa Barat terkait upahnya sebagai tenaga pendidik (Instagram.com/@pembasmii.kehaluan)

Baca Juga: Dua tahun jalan di tempat, pelapor kasus dugaan korupsi Wasbang DPRD Jatim desak KPK segera beri kepastian

Tetap mencintai profesi guru

Meski menerima penghasilan yang sangat minim, Fildzah menegaskan dirinya tidak menyesal menjadi guru dan tetap mencintai profesinya dengan tulus.

“Saya ingin menegaskan, saya tidak menyesal menjadi guru. Saya tetap mencintai profesi ini sepenuh hati,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa keterbatasan penghasilan tidak menghalanginya untuk tetap datang ke sekolah dan memberikan pengajaran terbaik bagi murid-muridnya.

“Di tengah keterbatasan, saya tetap mengajar dan berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anak,” tambahnya.

Baca Juga: Seskab Teddy nobar final Timnas Futsal Indonesia bareng warga Malang, rayakan perjuangan merah putih

Tak salahkan Pemda, tapi akui beratnya bertahan

Fildzah mengaku memahami kondisi Pemerintah Kabupaten Sumedang yang memiliki keterbatasan anggaran dalam membayar gaji guru PPPK paruh waktu.

“Saya tidak menyalahkan pihak Pemda yang saat ini hanya mampu memberikan gaji sebesar itu. Kami memahami kondisi tersebut sebagai realita yang dihadapi bersama,” jelasnya.

Namun di sisi lain, ia tak menampik bahwa kondisi tersebut tetap menghadirkan tantangan berat bagi para guru.

“Dengan penghasilan yang sangat minim, kami harus bertahan, mengatur ulang kebutuhan hidup, dan tetap menjalankan tanggung jawab sebagai pendidik,” tuturnya.

Baca Juga: Ngaku dibegal, akuntan SPPG di Aceh Utara diduga rekayasa kasus demi tutupi penggelapan Rp59 juta

Fildzah menegaskan bahwa unggahannya tidak bertujuan meminta belas kasihan atau menyudutkan pihak tertentu.

“Saya bangga menjadi guru. Kami bangga menjadi guru. Selama masih diberi kekuatan, kami akan tetap mengabdi meski dalam keterbatasan,” pungkasnya.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mustafa Kamal

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X