Era nasionalisme : Angkatan Pujangga Baru
Dalam perjuangan menuju kemerdekaan, Angkatan Pujangga Baru muncul sebagai gerakan sastra yang kuat pada tahun 1930-an.
Para penulis seperti Armijn Pane, Sutan Takdir Alisjahbana, dan Amir Hamzah menegaskan identitas nasional melalui karya-karya mereka.
Mereka melukiskan semangat perlawanan dan kerinduan akan kebebasan, menyingkap ketidakadilan sosial, dan mengekspresikan perasaan dan kegelisahan yang meluap di dalam hati rakyat Indonesia.
Masa orde baru : realisme dan sastra-sastra feminis
Pada masa pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto, sastra Indonesia menghadapi tantangan baru.
Baca Juga: Cegah kasus TPPO, AKBP Sumarni minta pihak perusahaan agar miliki data PMI yang habis kontrak
Meskipun ada pembatasan kebebasan berekspresi, sastra tetap menjadi suara untuk mengkritik ketidakadilan sosial dan politik.
Karya-karya sastra realis seperti "Cerita Dari Blora" karya Pramoedya Ananta Toer mengungkapkan luka dan penderitaan rakyat kecil.
Di samping itu, muncul pula sastra feminis yang menggambarkan pengalaman perempuan dan menyoroti isu gender, seperti dalam karya-karya Djenar Maesa Ayu.***