GENMILENIAL.ID - Nama Soe Hok Gie bukan sekadar bagian dari sejarah. Ia adalah simbol bagaimana suara mahasiswa bisa menjadi kekuatan moral yang mengguncang kekuasaan.
Puluhan tahun setelah kepergiannya, pemikiran dan sikap Gie tetap terasa relevan di tengah tantangan baru yang dihadapi pemuda dan mahasiswa Indonesia.
Soe Hok Gie: Wajah kritis mahasiswa
Lahir pada 17 Desember 1942, Gie tumbuh di tengah gejolak politik nasional. Sejak mahasiswa di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, ia aktif menulis opini tajam tentang ketidakadilan, korupsi, dan penyimpangan kekuasaan.
Baginya, mahasiswa harus menjadi 'penyambung lidah rakyat' dan 'hati nurani bangsa' — bukan justru larut dalam kepentingan politik praktis.
Salah satu pesan penting Gie yang terus diingat adalah:
"Mahasiswa harus tetap bersikap kritis terhadap kekuasaan dalam bentuk apapun."
Bagi Gie, gerakan mahasiswa sejati adalah gerakan moral, bukan alat politik siapa pun.
Tantangan mahasiswa hari ini
Hari ini, mahasiswa menghadapi tantangan yang berbeda namun tak kalah kompleks: komersialisasi pendidikan, tekanan ekonomi, dan polarisasi politik.
Dalam kondisi ini, nilai-nilai yang diperjuangkan Gie menjadi makin penting:
Kemandirian berpikir di tengah banjir informasi media sosial.