Penyair Widji Thukul, suara perlawanan yang tak terdengar

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Kamis, 15 Juni 2023 | 16:21 WIB
Aktivis dan Penyair Wiji Thukul
Aktivis dan Penyair Wiji Thukul

GENMILENIAL.ID - Di antara deru kehidupan sehari-hari yang seringkali membutakan kita terhadap kebenaran, terdapat satu suara yang membangkitkan hati nurani dan menantang status quo yang ada. 

Suara itu adalah milik penyair Widji Thukul, seorang pejuang yang menggunakan puisi sebagai senjata untuk melawan ketidakadilan.

Widji Thukul, lahir pada tahun 1963 di Solo, Jawa Tengah, telah meninggalkan jejak yang tak terlupakan dalam sejarah kesusastraan Indonesia. 

Namun, keberanian dan kecerdasannya sebagai penyair juga membawa risiko besar dalam sistem yang tak suka pada suara-suara kritis.

Baca Juga: Permasalahan sampah di Subang Kota, Komisi III DPRD minta pihak Dinas LH selesaikan dalam waktu satu minggu

Pada era Orde Baru, Widji Thukul menjadi tokoh yang sangat kontroversial. Puisi-puisinya yang tajam dan menggugah, dengan bahasa yang sederhana namun penuh makna, menjadi simbol perlawanan terhadap rezim otoriter yang berkuasa. 

Puisi-puisinya berbicara tentang ketidakadilan sosial, pelanggaran hak asasi manusia, dan ketimpangan yang merajalela di tengah masyarakat.

Namun, keberanian Widji Thukul tidak hanya terbatas pada dunia sastra. Ia juga aktif dalam gerakan buruh, membantu para pekerja yang tertindas dan berjuang untuk hak-hak mereka. 

Pada tahun 1996, Widji Thukul bersama dengan rekan sejawatnya, seperti Dedi Hamdun dan Marsinah, mengorganisir aksi mogok nasional yang bertujuan untuk mengadvokasi hak-hak buruh. 

Baca Juga: Madilog Tan Malaka, sebuah analisis dialektika kebudayaan

Ia menggunakan karyanya dan kehadirannya sebagai panggung untuk menggugat ketidakadilan yang sedang berlangsung di negeri ini.

Namun, ketenaran dan aktivisme Widji Thukul tidak selamanya berbuah manis. 

Pada tahun 1998, saat pemerintahan Orde Baru dihantam oleh protes rakyat yang masif, Wiji Thukul menjadi salah satu korban dari praktik-praktik represif rezim. 

Ia menghilang secara misterius dan tak pernah kembali lagi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X