Sinopsis novel 'Sang Tokoh' karya Wina Armada Sukardi

photo author
Mustafa Kamal, Genmilenial
- Selasa, 11 Maret 2025 | 06:17 WIB
Novel Sang Tokoh karya Wina Armada Sukardi
Novel Sang Tokoh karya Wina Armada Sukardi

Baca Juga: Gerak cepat Kepala Badan Gizi Nasional, bantah perbedaan anggaran Rp10.000 dan Rp8.000 MBG bukan karena korupsi

Klimaks kesuksesan dari keajaiban Sang Tokoh adalah saat menerima telepon dari pejabat yang merupakan pembisik presiden itu, bahwa Sang Tokoh diperintahkan oleh presiden untuk mengobati anak Raja Arab Saudi yang sakit dan koma sudah tiga tahun.

Permintaan itu pun dipertegas langsung oleh Presiden Indonesia, sehingga Sang Tokoh tidak bisa mengelak. Maka berangkat ia ke Arab dengan membawa ahli totok saraf, ahli diagnosis penyakit dalam, dan ahli obat herbal.

Pasien yang sudah koma tiga tahun itu, dengan ajaibnya dapat disembuhkan, pulih dalam tiga bulan. Atas keberhasilannya itu, Sang Tokoh diberi imbalan, ditawari oleh Pangeran Utama, mau apa?

Untuk tiga tenaga ahli, Sang Tokoh meminta mereka diberi uang masing-masing satu juta Real. Sedangkan untuk Sang Tokoh, ternyata ia tidak minta uang.

Baca Juga: Warganet serukan boikot Baim Wong setelah Paula Verhoeven unggah video anaknya menangis ketakutan

Ia minta tiga hal: Pertama, minta dibuatkan replika Ka’bah di Indonesia dengan suasana bangunan di sekitarnya.

Yang kedua, minta keluarga Kerajaan Arab membeli saham klub sepak bola divisi dua di Inggris yang nyaris gulung tikar, dan yang ketiga, bila ada keluarganya yang akan umroh atau naik haji, mohon dipermudah. Semua permintaan itu dipenuhi.

Permintaan membuat replika Ka’bah dan membeli klub sepakbola divisi dua di Inggris, memperkaya novel ini dengan keliaran imajinasi, namun pada kenyataannya, memang ada pembangunan Replika Ka’bah itu di Jakarta Utara, dan Pangeran Arab membeli saham klub sepakbola Inggris juga ada.

Di sinilah, penulis novel Wina Armada Sukardi, memperlihatkan kemampuannya sebagai seorang jurnalis yang terbiasa mengorek informasi, sehingga gagasan dalam novel yang bisa dianggap mustahil atau liar itu, ternyata ada dalam keseharian.

Baca Juga: Menyoal izin bersama dua anaknya, pengacara Baim Wong dan Paula Verhoeven beri pernyataan berbeda

Selain sebagai sastrawan yang dalam usia 17 tahun puisinya sudah dimuat di Majalah Horison, Wina juga menjadi seorang jurnalis dengan karier yang cemerlang hingga ke jenjang tertinggi, yaitu menjadi Pemimpin Redaksi hingga Pemimpin Umum Koran Merdeka.

Di luar dua hal itu, Wina juga tercatat sebagai pengacara dan memiliki kartu keanggotaan Asosiasi Advokasi Indonesia.

Keberuntungan datang berturut-turut kepada Sang Tokoh, yang membuatnya menjadi tokoh yang terkenal di tingkat nasional, bahkan hingga ke manca-negara.

Karena terkenalnya itu, Sang Tokoh menerima telepon dari ketua organisasi muslimin tionghoa di China, yang akan melakukan studi banding untuk mengetahui sepak terjang ormas keislaman di Indonesia.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mustafa Kamal

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X